Tanah Warisan 230
02-04-2002, Kegelisahan, kepepatan hati itu disimpannya rapat-rapat di dalam dadanya. Namun semakin lama terasa menjadi semakin berat. Tidak ada seorang pun yang dapat dibawanya berbincang. Ki Tambi pun tidak, karena jelas baginya, bahwa kali ini ia berbeda pendirian.
Bramanti mengerutkan keningnya ketika ia melihat Panjang memasuki halaman Kademangan sambil berselimut kain panjangnya. Tampak di lambungnya tangkai pedang mencuat dari kain selimutnya itu.
“Kau belum tidur Bramanti?” bertanya Panjang.
“Darimana kau tahu?” bertanya Bramanti.
“Dari parit disebelah. Aku kantuk sekali. Untuk menghilangkannya aku berjalan dan kemudian mencuci muka. Tetapi dinginnya bukan main.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba dorongan dari dalam dadanya tidak dapat ditahankannya lagi. Masalah Panggiring serasa telah penuh padat tertimbun di dalam dirinya, sehingga anak muda itu memerlukan tempat untuk meluapkan perasaannya itu. Dengan demikian ia akan merasa bahwa bebannya agak menjadi berkurang.
Selain Ki Tambi, Panjang adalah kawannya yang terdekat pula. Karena itu, tanpa dapat melawan dorongan perasaan sendiri, Bramanti yang betapapun kuat dan tangguhnya, namun ia adalah seorang anak yang masih muda, berkata perlahan-lahan, “Kemarilah Panjang.”
Panjang mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia bertanya Bramanti telah mendahuluinya melangkah ke pojok pendapa dan duduk memeluk lututnya.
Panjang pun kemudian duduk pula disampingnya. Ia melihat keragu-raguan yang membayang diwajah Bramanti. Meskipun demikian ia tidak mendahului bertanya kepadanya. Dibiarkannya Bramanti merenung sejenak.
Akhirnya Bramanti pun berkata, “Panjang, ada sesuatu yang akan aku katakan kepadamu.”
Panjang menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hatinya, meskipun ia masih tetap berdiam diri.
“Tetapi kau harus berjanji.”
Panjang menjadi semakin heran, “Janji untuk apa?” ia bertanya.
“Aku akan mengatakan sesuatu, tetapi kau harus berjanji bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada orang lain.”
Panjang berpikir sejenak. Kepalanya terangguk-angguk. Dan dari mulutnya terdengar ia berdesis, “Apakah yang akan kau katakan?”
“Berjanjilah bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada orang lain.”
Kepala Panjang terangguk kecil, “Baiklah, aku tidak akan mengatakannya.”
Begitu pepatnya dada Bramanti sehingga seperti bendungan yang terbuka langsung terloncat dari mulutnya, “Panggiring sekarang telah berada disini.”
“He,” Panjang pun terkejut bukan buatan sehingga ia bergeser maju, “Panggiring?”
“Jangan keras-keras,” potong Bramanti. “Ia sudah berada di sekitar Kademangan ini.”
“Apakah maksudnya?”
Posted on December 18th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 206 Views





Leave a Reply