Tanah Warisan 231

03-04-2002,  “Ia ingin pulang ke kampung halaman,” Bramanti berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kami tidak akan dapat menerimanya kembali.” Panjang tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Kemudian didengarnya Bramanti berceritera tentang Panggiring. Tetapi tidak seluruhnya. Sebagian dari keterangan Ki Tambi tidak diucapkannya. Ia ingin seseorang membenarkan pendiriannya, menolak kedatangan kakaknya. Meskipun kadang-kadang ia menjadi berdebar-debar apabila ia menyadari bahwa ia telah berlaku tidak jujur.

Tetapi apakah yang dikatakan kakang Panggiring itu juga benar seluruhnya?” katanya di dalam hati. “Mungkin ia hanya sekadar mengarang sebuah ceritera untuk mendapatkan belas kasihan. Atau lebih jahat lagi apabila ia hanya sekadar suatu siasat untuk mengelabuhi kami di Kademangan ini. Kemudian ia memanggil anak buahnya dan menyembunyikannya di dalam rumah yang akan dibuatnya. Di halaman rumahku pula.”

Panjang mendengarkan ceritera Bramanti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bahkan kemudian ia berkata, “Aku sependapat dengan kau Bramanti. Kau memang harus menolak kehadirannya. Ia akan dapat berbuat apa saja di dalam Kademangan ini.”

“Itulah sebabnya, aku tidak menerimanya.”

“Tetapi,” tiba-tiba Panjang berkerut, “Apabila ia menjadi marah, apakah ia tidak akan menyerang Kademangan ini bersama anak buahnya.”

“Kami telah siap menerimanya,” jawab Bramanti, “Terharap Panembahan Sekar Jagat kami tidak takut, apalagi terhadap Panggiring yang belum diketahui, apakah benar-benar ia seorang yang pilih tanding.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba keningnya berkerut-merut. Bisiknya, “He, Bramanti. Apakah kau tidak berpikir atau menduga, bahwa mungkin sekali orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat itu adalah Panggiring?”

Wajah Bramanti menegang. Tetapi ia menjawab, “Tetapi bukankah Panggiring pernah mencoba mencegah pemerasan Panembahan Sekar Jagat, meskipun mungkin karena pamrih untuk menggantikan kedudukan Panembahan Sekar Jagat di daerah ini. Tetapi ketika ternyata Panembahan Sekar Jagat tidak menarik dirinya, Panggiring tidak berani berbuat apa-apa dengan seribu macam alasan.”

“Dapat saja ia membuat ceritera semacam itu. Tetapi Panembahan itu sendiri adalah Panggiring.”

Bramanti mengerutkan keningnya.

“Karena kegagalan orang-orangnya di Kademangan ini, setelah kau berterus terang melawannya dan membunuh Sapu Angin, maka Panggiring akan mempergunakan cara yang lain.”

Bramanti tidak segera menjawab. Dugaan itu memang masuk akal. Tetapi bukankah menurut Ki Tambi, Panggiring telah meletakkan senjatanya? Atau Ki Tambi sangat terpengaruh oleh kebaikan hati Panggiring yang menurut Ki Tambi sendiri pernah menyelamatkan nyawanya, bahkan membekalinya dengan lencana bergambar sebuah candi?

Keduanya sejenak saling berdiam diri. Mereka sedang mereka-reka di dalam angan-angan. Bahkan Bramanti sedang mencoba menghubungkan ceritera Ki Tambi dengan dugaan Panjang tentang Panggiring.

“Persetan,” ia menggeram di dalam dirinya, “Siapa pun Panggiring, aku pasti akan tetap menolaknya. Tanahku tidak akan aku berikan kepada seseorang yang telah menjadi sumber bencana bagi keluarga dan bahkan bagi Kademangan yang sedang dibina ini. Seandainya orang lain sekalipun, tetapi orang itu tidak sekotor kakang Panggiring aku sama sekali tidak akan berkeberatan.”

Namun sekilas terbayang wajah Ratri yang bertanya kepadanya, dengan sepenuh harapan, “Bramanti, kapankah Panggiring akan pulang?”

“Tidak. Tidak,” serasa hatinya berteriak, “Ia tidak akan pulang. Biarlah ia menjadi seperti selembar daun kering yang diterbangkan angin. Hidupnya memang tidak akan berguna lagi bagi seisi Kademangan Candisari. Bahkan bagi siapapun.”
(Bersambung)-m

Leave a Reply