Tanah Warisan 232

04-04-2002,  Bramanti berpaling ketika ia mendengar Panjang bertanya, “Bagaimana pendapatmu Bramanti?” “Kemungkinan ia memang ada. Tetapi aku belum berpendapat sejauh itu.”

“Tetapi kau harus tetap berhati-hati Bramanti.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun pembicaraan itu pun segera terputus ketika mereka melihat Ki Tambi memasuki regol halaman. Langkahnya satu-satu di atas tanah yang dibasahi oleh titik embun.

“Jangan kau tanyakan kepada paman Tambi,” desis Bramanti, “Dan ingat, jangan kau katakan kepada siapapun juga.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Ketika Ki Tambi sampai di tangga pendapa, maka Bramanti pun menyapanya dengan kaku, “Selamat malam paman.”

Ki Tambi tersenyum. Jawabnya, “Kau Bramanti. Apakah kau tidak pergi berkeliling?”

“Temunggul dan Ki Jagabaya telah melakukannya.”

“Ya, aku bertemu dengan mereka dipinggir desa.”

“Apakah paman baru datang dari sawah?”

“Ya,” jawab Ki Tambi pendek. Namun ia segera menangkap pertanyaan yang membayang di wajah Bramanti, “Agaknya paman Tambi telah bertemu lagi dengan kakang Panggiring,” tetapi pertanyaan itu tidak pernah diucapkannya.

Maka Ki Tambi pun kemudian duduk pula bersama Bramanti dan Panjang. Tetapi pembicaraan mereka terasa agak lain dari masa-masa sebelumnya. Ki Tambi tidak banyak lagi berceritera, dan Panjang tidak lagi banyak bertanya. Sedang Bramanti pun kemudian menguap beberapa kali.

“Tidurlah Bramanti,” berkata Ki Tambi. “Kau perlu beristirahat. Akhir-akhir ini kau terlampau banyak bangun di malam hari.”

“Ya paman,” jawab Bramanti pendek. Namun ia pergi juga bersama Panjang ke gardu di samping regol. Kepada para peronda ia berkata, “Kami akan beristirahat. Bangunkan kalau kalian memerlukan.”

Peronda itu mengangguk, “Baik,” jawab salah seorang dari mereka.

Bramanti dan Panjang pun kemudian membaringkan diri mereka di atas tikar sehelai di pendapa Kademangan. Namun ternyata mereka tidak dapat segera tertidur, karena berbagai macam bayangan yang mengganggu angan-anggan mereka.

Ki Tambi sendiripun kemudian pergi pula kegardu di samping regol. Diletakkannya dirinya disudut gardu bersandar dinding sambil berselimut kain panjangnya. Tetapi orang tua itu pun tidak juga dapat tidur.

Ketika Temunggul dan Ki Jagabaya datang, Ki Tambi pun segera bangkit menyongsong mereka.

“Apakah kau sudah bertanya?” bertanya Ki Jagabaya.

Ki Tambi menggeleng, “Belum.”

“Kenapa?”

“Anak itu baru tidur.”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bersama Temunggul dan Ki Tambi mereka pergi naik ke pendapa. Sekilas mereka melihat di antara anak-anak muda yang terbaring, Bramanti dan Panjang. Namun mereka tidak mengetahui, bahwa meskipun mata mereka terpejam, tetapi mereka tidak sedang tidur.

Sejenak Ki Tambi, Ki Jagabaya dan Temunggul bercakap-cakap, ketika mereka kemudian mendengar ayam jantan berkokok. Warna semburat merah segera membayang di dedaunan, pada titik-titik embun yang bergayutan di dahan-dahan.

“Fajar,” desis Ki Tambi, “Aku akan pulang. Beberapa malam aku tidak berada di rumah sama sekali.”

“Kenapa?” bertanya Ki Jagabaya.

“Aku berada disini.”

“Kau datang terlampau malam beberap hari ini. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya.”

Leave a Reply