Tanah Warisan 233
05-04-2002, Ki Tambi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. “Aku menunggui tanaman di sawah.” Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Temunggul. Namun mereka tidak berbicara apapun.
Namun kilasan pandangan mata itu telah memberikan kesan kepada Ki Tambi yang mempunyai perasaan yang cukup tajam. Sehingga ia mengambil kesimpulan, “Mereka melihat sesuatu yang lain dari pada diriku. Bukan sekadar pada Bramanti, meskipun mereka mengharap akulah yang akan berbicara kepada anak muda itu.”
Tetapi Ki Tambi tidak berkata apapun. Ia pun kemudian meninggalkan halaman Kademangan dengan gelisah di dalam dada.
Sejenak kemudian langit pun menjadi semakin terang. Satu-satu anak-anak muda yang tertidur di pendapa itu pun terbangun. Dan satu-satu mereka meninggalkan halaman, pulang ke rumah masing-masing. Bramanti yang tidak dapat tidur sekejap pun segera bangkit pula. Tetapi ketika ternyata Panjang akhirnya tertidur nyenyak, anak itu tidak dibangunkannya. Dibiarkannya Panjang berbaring di pendapa.
“Apakah kau dapat tidur?” bertanya Temunggul.
Bramanti menggelengkan kepalanya, “Kau?”
Temunggul pun menggeleng sambil tersenyum. “Aku pun tidak. Tetapi agaknya Panjang tidur dengan nyenyaknya.”
“Panjang pun belum lama tertidur,” jawab Bramanti.
“Biarlah ia tidur. Aku akan menungguinya,” berkata Temunggul.
“Anak itu tidak akan dimakan hantu.”
Temunggul tertawa dan Bramanti pun tersenyum juga. Namun Bramanti itu pun kemudian minta diri mendahului pulang.
Seperti biasanya Temunggul selalu mengumpat-umpat karena anak muda dan Ki Jagabaya yang semalaman berada di pendapa segera pulang, sedang anak-anak yang harus berjaga-jaga di siang hari masih belum datang. Tetapi kali ini ia masih mempunyai seorang kawan meskipun masih tidur. Panjang. Dan Temunggul sengaja tidak membangunkannya.
Namun akhirnya Temunggul melihat Panjang itu menggeliat sambil berdesah. Kemudian membuka matanya.
“O,” dengan serta merta ia bangkit, “Sudah siang.”
“Belum,” jawab Temunggul, “Masih terlalu pagi untuk bangun.”
Panjang pun kemudian bangkit dan duduk bersila sambil mengusap-usap matanya. Ia sudah tidak melihat seorang pun lagi di pendapa selain Temunggul. Tikar-tikar yang dibentangkan di pendapapun telah digulung seluruhnya. Bahkan halaman Kademangan telah sepi.
“Semuanya sudah pulang?”
“Ya,” jawab Temunggul. “Aku pun hampir saja pulang meninggalkan kau disini.”
Panjang menguap, “Bramanti?”
“Ia telah pulang pula.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Temunggul yang lelah. Sebuah kesan yang lain tersirat di wajah itu.
“He, Panjang,” berkata Temunggul tiba-tiba, “Apakah kau melihat sesuatu yang lain dari pada diri Bramanti?”
“Kenapa?” bertanya Panjang pula.
“Aku melihat kegelisahan yang selama ini membayanginya.”
Panjang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.
“Apakah ia tidak pernah mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Panjang menarik nafas dalam-dalam.
“Aku mencemaskannya. Mungkin ia menahan sesuatu. Mungkin tentang Panembahan Sekar Jagat. Supaya kami tidak menjadi gelisah, ia tidak memberitahukan apapun kepada kami. Atau tentang yang lain lagi.”
Panjang menggeser dirinya. Dipandanginya seluruh halaman dengan tajamnya, seolah-olah ia sedang mencari seseorang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan atau di belakang gardu.
“Tidak ada orang.” (Bersambung)-m
Posted on December 21st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 214 Views





Leave a Reply