Tanah Warisan 234
06-04-2002, Panjang menggigit bibirnya. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi jangan mengatakannya kepada orang lain. Kau janji?”
“Tentang apa?”
“Bramanti.”
Temunggul terdiam sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku berjanji.”
“Hanya akulah yang diberitahu. Dan ia pun berpesan untuk tidak memberitahukannya kepada orang lain.”
Temunggul menjadi semakin ingin tahu karenanya. Dengan demikian ia segera menjawab, “Baik, baik. Aku berjanji.”
Panjang bergeser semakin dekat. Sambil berbisik ia berkata, “Bramanti memang sedang resah.”
“Kenapa?” bertanya Temunggul.
“Ternyata Panggiring kini berada di sekitar Kademangan ini.”
“He?” Temunggul pun menjadi terbelalak.
“Panggiring yang ingin pulang ke rumah ibunya, dan minta kepada Bramanti sepotong tanah untuk membuat rumah tempat tinggal.”
“Bukankah ia seorang perampok di pesisir Utara?”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Itulah keberatan Bramanti. Selama ini ia selalu mencoba memberantas kejahatan yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat. Sudah tentu ia tidak akan dapat menyimpan seorang penjahat dirumahnya.”
“Tentu. Kademangan ini pun tidak.”
“Bramanti memang menolak. Bahkan aku bertanya kepadanya, apakah tidak mungkin, bahwa orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat itu Panggiring sendiri, atau orang yang dipasangnya.”
Temunggul mengerutkan keningnya. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Sementara itu Panjang telah berceritera tentang Panggiring. Tidak saja seperti yang diceriterakan Bramanti, tetapi ia sendiri telah ikut berceritera menurut seleranya sendiri.
“Kita harus membantunya,” desis Temunggul.
“Tentu,” jawab Panjang.
Namun tiba-tiba Temunggul mengerutkan keningnya. Terbayang di dalam angan-angannya Panggiring dan Bramanti yang berhadapan sebagai lawan. Sebagai laki-laki yang memiliki kelebihan masing-masing. Meskipun mereka bersaudara seibu, namun agaknya ada jurang yang telah menganga di antara mereka.
“Siapakah yang lebih unggul di antara mereka?” pertanyaan itu menggelepar di dalam hatinya, kemudian, “Kalau saja Bramanti binasa oleh Panggiring, maka Ratri akan terbebas daripadanya,” Namun kemudian, “Tetapi bagaimana kalau Panggiring yang binasa?”
Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia menggeram, “Untuk kali ini, kita memang harus membantu Bramanti.”
Tetapi Temunggul itu terkejut ketika ia mendengar Panjang bertanya, “Kenapa untuk kali ini?”
“Oh, tidak,” Temunggul tergagap. “Maksudku kita harus membantu Bramanti apabila timbul benturan di antara mereka. Apalagi apabila ternyata bahwa Panggiringlah yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ditatapnya halaman yang telah menjadi semakin terang. Sinar matahari pagi telah mulai membayang didedaunan.
“Aku akan pulang. Sebentar lagi anak-anak yang seharusnya bertugas akan segera datang.”
“Kawani aku sambil menunggu anak-anak itu.”
Panjang berpikir sejenak. Tetapi jawabnya, “Maaf, kali ini aku tidak dapat. Mungkin lain kali. Aku mempunyai kepentingan di rumah.”
Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apaboleh buat. Tetapi aku akan segera membuat peraturan baru, sehingga tidak setiap pagi aku terkungkung disini.”
Panjang tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum sambil menggeliat. Katanya, “Tetapi ingat, jangan kau katakan kepada orang lain. Sementara kita melihat perkembangan keadaan Bramanti. Mungkin ia memerlukan pertolongan.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah.” (Bersambung)-m
Posted on December 21st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 216 Views





Leave a Reply