Tanah Warisan 235
Fri. December 21, 2007Categories: Tanah warisan
07-04-2002, Sepeninggalan Panjang, Temunggul duduk seorang diri di tangga Pendapa Kademangan sambil bertopang dagu. Angan-angannya membumbung menggapai kedunia yang riuh. Bayangan yang bercampur baur saling melintas. Ratri, Bramanti, Panembahan Sekar Jagat, Ki Demang Candisari dan yang terakhir yang baru saja didengarnya adalah tentang Panggiring.
Temunggul mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya kepada anak muda ini. Ia pernah mengenalnya semasa kanak-kanak. Panggiring agak lebih tua daripadanya. Bukan seorang periang, tetapi bukan pula seorang anak yang nakal.
“Apakah anak itu pernah aku kenal jugalah yang menjadi seorang perampok yang ganas di pesisir Utara?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.
Tetapi Temunggul itu tidak sempat berangan-angan terus. Sebuah derit pintu dibelakangnya telah mengejutkannya. Dan ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Demang menjengukkan kepalanya.
Tiba-tiba sesuatu bergetar di dalam dada Temunggul. Ki Demang itu kini terasa sangat asing baginya. Dan bahkan disaat-saat terakhir orang ini seakan-akan sudah dilupakan. Kademangan Candisari seakan-akan sudah tidak mempunyai Demang lagi. Semuanya berjalan dengan sendirinya. yang memegang peranan di dalam pemerintahan sehari-hari adalah Ki Jagabaya, Bramanti, Ki Tambi dan dirinya sendiri.
Bulu-bulu tengkuk Temunggul meremang ketika ia mendengar Ki Demang itu tertawa pendek sambil bertanya, “Kau sendiri Temunggul?”
Sama sekali diluar sadarnya, apabila kemudian ia berdiri dan tangannya meraba hulu pedang dibawah kain panjang yang diselimutkan ditubuhnya karena dinginnya udara pagi.
“He? Apakah kau sendiri?”
Temunggul menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”
Debar jantung Temunggul serasa semakin cepat berdenyut. Dengan tegangnya dipandanginya Ki Demang yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumahnya.
“Duduklah, duduklah.”
Temunggul masih juga mematung.
“Kenapa kau diam saja? He, kenapa kau memandang aku seperti belum pernah melihatnya?”
Temunggul tergagap. Tetapi ia harus menjawab, “Bukan begitu Ki Demang. Tetapi aku menjadi heran, kenapa Ki Demang semakin tidak pernah kelihatan, justru keadaan Kademangan ini menjadi semakin hangat.”
Dan tengkuk Temunggul menjadi semakin meremang oleh suara tertawa Ki Demang yang menjadi semakin berkepanjangan.
Ketika Ki Demang maju mendekatinya, Temunggul surut selangkah.
“He, kenapa kau menjadi takut seperti melihat hantu?” bertanya Ki Demang. “Duduklah. Aku ingin berbicara dengan kau. Jangan takut. Aku tidak akan menyalahkanmu karena kau masih juga belum berhasil. Bramanti memang seorang yang luar biasa. Apalagi kau terlampau sulit untuk mendapatkan kesempatan berdua saja dengan anak muda itu.” (Bersambung)-m
Comments