Tanah Warisan 243

Selasa, 16-04-2002
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dengan lesu ia menyeret kakinya keluar dari rumahnya, melintasi pendapa dan turun ke halaman. Dipandanginya kehijauan dedaunan yang selama ini dipeliharanya baik-baik. Pohon sawo yang sedang berbuah.

Tanah Warisan 242

Senin, 15-04-2002
Dada Bramanti berdesir mendengar tuduhan itu. Secercah warna merahpun membayang pulang di wajahnya. Bagaimana pun juga terasa kata-kata Ki Tambi itu menyengat telinganya, dan membekas dijantungnya.

Tanah Warisan 241

Minggu, 14-04-2002
Dalam pada itu Ki Tambi telah memerlukan datang ke rumah Nyai Pruwita untuk menyampaikan permintaan Panggiring yang terakhir. Bagaimanapun juga, ia masih ingin bertemu dengan ibu dan adiknya. Sebentar saja, untuk melepaskan kerinduan dari anak yang selama ini terasing untuk menyampaikan bakti dan salam kepada keluarganya yang lebih dari dua orang itu saja.

Tanah Warisan 240

Jumat, 12-04-2002
Suwela berpikir sejenak, kemudian, “Baiklah, aku berjanji.”
“Panggiring ada disini sekarang.”
“He? Panggiring kakak seibu Bramanti?”

Tanah Warisan 239

Kamis, 11-04-2002
Tetapi gadis itu tidak mempertahankannya ketika Temunggul meraih bakul cuciannya.
Keduanya kemudian berjalan di sepanjang pematang menuju ke bendungan.

Tanah Warisan 238

Rabu, 10-04-2002
Ketika seorang lagi telah datang, maka Temunggul pun kemudian minta diri kepada kedua orang pengawal yang akan menggantikan tugasnya, berjaga-jaga di gardu Kademangan.

Tanah warisan 237

Selasa, 09-04-2002
“Temunggul,” berkata Ki Demang itu perlahan-lahan hampir berbisik. Sekali-kali dipandanginya regol halaman kalau ada seorang yang memasukinya, “Aku akan berterus terang. Panembahan Sekar Jagat akan segera datang. Segera.

Tanah Warisan 236

Senin, 08-04-2002
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”
“Nah duduklah. Kau akan mendengar semuanya, kenapa aku menjadi semakin jauh dari orang-orang Kademangan Candisari yang kebetulan sekarang sedang berpengaruh.”