Tanah Warisan 236

Senin, 08-04-2002
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”
“Nah duduklah. Kau akan mendengar semuanya, kenapa aku menjadi semakin jauh dari orang-orang Kademangan Candisari yang kebetulan sekarang sedang berpengaruh.”

Temunggul mengerutkan keningnya.

“Kemarilah. Jangan cemas. Kau tidak termasuk di antaranya, apabila kau menempati janjimu.”

Temunggul tidak segera menjawab. Ia masih berdiri saja seakan-akan membeku ditempatnya.

“He, kenapa kau Temunggul? Kemarilah, duduklah. Kau tidak sedang berhadapan sesosok hantu.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ditatapnya wajah Ki Demang. Masih juga Ki Demang yang dahulu. Meskipun demikian ia tidak berhasil mengusir keasingan yang mencengkeramnya.

Namun tiba-tiba Temunggul menyadarinya. Sebagai pimpinan pengawal, maka ia tidak dapat melepaskan setiap perasaan yang aneh seperti yang kini sedang bergolak di dalam dadanya. Bahkan ia pernah berniat untuk mengetahui, apakah maksud Ki Demang yang sebenarnya dengan usuhanya untuk menyingkirkan Bramanti.

Karena itu, maka dimantapkannya niatnya. Ia harus menemukan jawaban, apakah sebenarnya maksud Ki Demang itu.

Perlahan-lahan Temunggul melangkah maju. Ketika ia berada di depan tangga, maka Ki Demang pun melangkah turun. Ditepuknya bahu anak muda itu sambil berkata, “Duduklah.”

Temunggul pun kemudian duduk di samping Ki Demang. Namun sekali-kali ia masih merasa aneh atas sikapnya. Sambil tersenyum-senyum Ki Demang itu pun kemudian berkata, “Aku tahu kesulitanmu Temunggul.”

Temunggul tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk.

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kau harus membatalkan niatmu. Kau harus yakin, bahwa jika kau berhasil, seluruh Kademangan ini akan berterima kasih kepadamu.”

Temunggul masih belum menjawab.

“Temunggul,” berkata Ki Demang, “Tindakan yang akan kau lakukan itu memang tidak dibatasi oleh waktu. Kau harus mendapat kesempatan untuk melakukannya. Tetapi meskipun demikian tidak berarti bahwa hal itu dapat berlarut-larut berkepanjangan. Sadarilah, bahwa pada suatu saat Panembahan Sekar Jagat akan kehilangan kesabaran.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kau dapat mengerti?”

Temunggul mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Tetapi kepentinganku sama sekali tidak terbatas oleh waktu itu Ki Demang. Ratri tidak akan pergi dari Kademangan ini. Dengan demikian aku dapat menunggu kapan saja kesempatan itu akan datang.”

“Kau memang bodoh.”

“Aku tidak mau gagal. Kalau sekali aku gagal, maka leherku akan menjadi taruhan.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Tetapi seperti yang sudah aku katakan. Persoalan itu bersangkut paut dengan matinya seorang kepercayaan Panembahan Sekar Jagat yang bernama Sapu Angin. Kau tahu. Semakin cepat Bramanti tersingkirkan akan menjadi semakin baik, “Ki Demang menelan ludahnya, lalu, “He, Temunggul. Apakah kau benar-benar dapat aku percaya?”

“Kenapa?”

“Bahwa kau benar-benar berani menyingkirkan Bramanti.”

“Ada atau tidak ada orang yang mempercayai aku, itu adalah persoalan pokok bagiku. Tanpa orang lain, aku akan melakukannya.”

“Bagus. Bagus. Aku memang lebih baik berterus terang kepadamu.”

Temunggul mengerutkan keningnya.

“Tetapi ingat. Setiap usaha mengkhianatinya, maka akan berhadapan dengan Panembahan Sekar Jagat.”

Temunggul masih tetap berdiam diri.

Leave a Reply