Tanah warisan 237
Selasa, 09-04-2002
“Temunggul,” berkata Ki Demang itu perlahan-lahan hampir berbisik. Sekali-kali dipandanginya regol halaman kalau ada seorang yang memasukinya, “Aku akan berterus terang. Panembahan Sekar Jagat akan segera datang. Segera. Untuk meyakinkan bahwa kehadirannya di Kademangan ini tidak akan menemui rintangan yang berarti, maka Bramanti harus disingkirkan lebih dahulu dengan caramu itu. Lebih daripada itu, Panembahan Sekar Jagat akan sangat berterimakasih kepadamu, dan kau akan mendapat tempat yang baik sekali di Kademangan ini kelak. Sudah tentu Panembahan Sekar Jagat akan menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya. Ki Tambi, Panjang dan bahkan Ki Jagabaya.”
Dada Temunggul berguncang mendengar keterangan Ki Demang itu. Kini sedikit banyak ia telah dapat membayangkan, apakah niat Ki Demang yang sebenarnya. Agaknya orang ini telah berhubungan dengan Panembahan Sekar Jagat yang menuntut kematian Bramanti sebagai ganti Sapu Angin. Namun lebih daripada itu, Temunggul jadi semakin curiga, bahwa selama ini Ki Demang selalu menakut-nakuti dan menghalang-halangi usaha perlawanan terhadap Panembahan Sekar Jagat itu.
“Agaknya Ki Demang mamang mempunyai hubungan sejak lama dengan Panembahan Sekar Jagat.”
Namun Temunggul mencoba menahan gejolak di dalam dadanya, supaya tidak berkesan diwajahnya.
“Apakah kau sekarang menjadi jelas?” bertanya Ki Demang.
Temunggul menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”
Dan Ki Demang itu berkata seterusnya, “Dan kau harus menyadari, bahwa tidak akan ada kekuatan yang dapat melawan Panembahan Sekar Jagat. Seandainya kau tidak berhasil sekalipun, Panembahan Sekar Jagat tidak akan mengurungkan niatnya. Bahkan kau sendiri akan dilibatkan pula dalam persoalan ini, karena terbukti kau ikut serta dalam pertempuran di halaman rumah Bramanti. Namun akulah yang berusaha dengan susah payah untuk menyisihkan kau. Selama ini kau adalah pembantuku yang paling baik.”
Temunggul masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi ingat pula akan waktu. Kalau kau mungkin melakukannya, lakukanlah hari ini.”
“Hari ini?” Temunggul terperanjat.
“Ya, hari ini. Carilah kesempatan. Kau dapat datang kerumahnya, atau dibendungan atau ditengah sawah atau dimana saja.”
“Kenapa hari ini?”
Ki Demang menarik nafas. Jawabnya, “Begitu pesannya.”
Dada Temunggul menjadi semakin terguncang-guncang. Namun untuk menyembunyikannya ia menjawab, “Baiklah. Aku akan berusaha. Mudah-mudahan usahaku berhasil.”
Ki Demang menepuk pundak Temunggul, “Tentu. Kau tentu berhasil. Aku percaya kepadamu.”
Temunggul mengangguk-angguk.
“Sayang, sebenarnya aku masih akan berbicara agak panjang. Tetapi itu, seorang pengawal telah datang. Bagiku lebih baik untuk sementara mengasingkan diri sampai pada saatnya aku akan bekerja bersama dengan orang-orang yang dapat mempergunakan otaknya.”
“Baiklah Ki Demang, aku pun akan segera minta diri setelah ada orang lain yang menggantikanku disini.”
“Hati-hatilah,” desis Ki Demang sambil berdiri dan melangkah menyeberangi pendapa, masuk ke pringgitan.
Temunggul kemudian berdiri termangu-mangu. Yang di dengarnya itu adalah sebuah berita yang sangat berharga baginya. Ia dapat memanfaatkannya dari dua segi. Melanjutkan pesan Ki Demang, dengan harapan-harapan yang dapat diberikan oleh Panembahan Sekar Jagat kepadanya, atau berdiri teguh di atas keyakinannya selama ini.
Wajah Ratri yang kadang-kadang membayang memang dapat mempengaruhinya. Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “Bramanti harus segera mengetahui masalah ini.”
Posted on December 23rd, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 215 Views





Leave a Reply