Tanah Warisan 238

Rabu, 10-04-2002
Ketika seorang lagi telah datang, maka Temunggul pun kemudian minta diri kepada kedua orang pengawal yang akan menggantikan tugasnya, berjaga-jaga di gardu Kademangan.

Di sepanjang jalan, Temunggul masih saja bergulat di dalam angan-angan. Tanpa disadarinya ia telah berdiri di pinggir desa. Namun ia tidak tahu, kemana ia akan pergi.

Sejenak, Temunggul berdiri saja termenung memandangi dedaunan yang hijau terhampar dihadapannya. Cahaya yang segar, bekejar-kejaran sambil berloncatan dengan riangnya.

Temunggul menarik nafas. Serasa segarnya udara pagi akan dihirupnya sepuas-puasnya.

Temunggul terkejut ketika ia mendengar sapa seorang gadis. Ketika ia berpaling, dilihatnya gadis yang menyapanya itu menjinjing sebuah bakul penuh dengan cucian yang akan dibawanya ke bendungan.

“Sepagi ini kau sudah berada disini Temunggul?”

“Ya, ya,” Temunggul tergagap.

“Apakah kau akan pergi ke bendungan?”

Temunggul ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak. Aku tidak bermaksud ke bendungan.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu telah membingungkan Temunggul. Namun kemudian ia menjawab, “Aku baru saja pulang dari Kademangan. Semalam aku berada disana. Aku ingin pulang dan beristirahat.”

Gadis itu mengerutkan keningnya. “Dimana rumahmu sekarang?”

Temunggul menjadi semakin bingung. Ia tahu gadis itu telah menyindirnya, karena jalan simpang yang menuju ke rumahnya telah lewat.

“Aku tahu,” sambung gadis itu. “Kau menunggu seseorang.”

Temunggul menggeleng, “Aku tidak menunggu siapapun.”

“Jalan ini adalah jalan ke rumahku. Di sebelah rumahku ada rumah yang paling kau kenal.”

“Ah,” segores sentuhan telah membekas dihatinya. Ia tahu bahwa rumah yang dimaksud adalah rumah Ratri. Gadis ini adalah gadis yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Ratri. Gadis yang pernah di antarnya bersama Ratri dimalam hari, setelah pertunjukan di Kademangan selesai. Ketika kedua gadis ini bersama Ratri, hampir saja diterkam oleh kebuasan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.

“Bukan begitu?” bertanya gadis itu sambil tersenyum.

“Tidak. Aku tidak menunggunya.”

Gadis itu tertawa. Dan dengan manjanya ia berkata. “Tetapi tanpa Ratri kau pasti akan mau mengantarkan aku.”

“Ah.”

“Aku berani bertaruh hitam kukuku.”

“Jangan mengganggu. Kalau kau memerlukan kawan, marilah aku kawani kau ke bendungan.”

“Tidak mau. Kecuali bersama Ratri.”

“Tidak ada bedanya bagiku, siapapun orang itu. Ratri, atau Sumi, atau Sari atau kau.”

Gadis itu memandang Temunggul dengan sorot matanya yang cerah. Namun ketika tatapan mata mereka bertemu, gadis itu memalingkan wajahnya.

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah merasa tertarik oleh seorang gadis selain Ratri. Gadis ini pun tidak, meskipun ia telah lama mengenalnya, sepanjang perkenalannya dengan Ratri. Bahkan sejak mereka masih berlari-larian dengan telanjang di pematang sawah.

Tetapi tiba-tiba Temunggul menangkap sorot mata yang cerah itu dengan hati yang berdebar-debar.

Temunggul berpaling ketika ia mendengar gadis itu berkata, “Jalan inilah yang akan dilewatinya. Tunggulah disini.”

“Ah,” sekali lagi berdesah. “Aku tidak menunggunya.”

Gadis itu mencibirkan bibirnya sambil mengerling. Tiba-tiba ia melangkah sambil berkata, “Selamat pagi Temunggul.”

Temunggul memandangnya dengan tajam. Namun kemudian ia pun tersenyum. “Marilah, aku bawakan bakulmu.”

“Jangan.” (Bersambung)-m

Leave a Reply