Tanah Warisan 239

Kamis, 11-04-2002
Tetapi gadis itu tidak mempertahankannya ketika Temunggul meraih bakul cuciannya.
Keduanya kemudian berjalan di sepanjang pematang menuju ke bendungan.

Hari pun ternyata memang masih terlampau pagi, sehingga belum ada seorang pun yang mendahului keduanya. Meskipun demikian keduanya hampir tidak berbicara apapun. Gadis itu langsung mencelupkan pakaian-pakaian kotor yang dibawanya ke dalam air. Terasa tubuhnya menggeramang karena air yang masih terlampau dingin.

“Kau tidak mandi?” bertanya gadis itu.

Temunggul menggeleng, “Tidak. Aku tidak membawa ganti pakaian.”

Gadis itu tersenyum. Wajahnya menjadi semburat merah.

“Aku akan menunggu Bramanti di sini,” tiba-tiba Temunggul berkata.

“He? Kenapa?” tiba-tiba gadis itu menjadi cemas. Ia pernah mendengar kabar bahwa keduanya pernah bertengkar, meskipun akhirnya mereka menjadi baik kembali.

“Tidak apa-apa. Aku mengharap ia tidak terlampau cepat datang, sebelum kau habis mandi.”

Sekali lagi wajah gadis itu menjadi semburat merah dan tertunduk dalam-dalam. Meskipun demikia ia masih sempat menyahut, “Temunggul. Ratri juga akan mandi nanti.”

Temunggul tidak menjawab. Tetapi ia melangkah ke atas pasir tepian menjauh. Sekilas terngiang kata-kata Ki Demang kepadanya. Tentang Bramanti, Panembahan Sekar Jagat dan tentang Ratri.

“Ratri berhak menentukan sikapnya,” katanya, “Agaknya ia tidak menanggapi perasaanku. Buat apa aku menjadi gila karenanya.”

Tetapi tiba-tiba teringat otaknya, bahaya yang mengancam Kademangannya seperti yang dikatakan oleh Ki Demang. Sehingga ia berdesis di dalam hatinya, “Aku harus segera bertemu dengan Bramanti.” Tetapi ketika terpandang olehnya gadis yang sedang mencuci sambil membenamkan dirinya di dalam air yang jernih itu, ia mengurungkan niatnya, “Biarlah aku menunggu Bramanti di sini. Hari masih cukup panjang.”

Dan Temunggul itu pun kemudian duduk berjuntai di atas sebuah batu sebesar kerbau.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, dan kawan-kawan gadis yang sedang mencuci itu berdatangan, Temunggul memutar dirinya, membelakangi bendungan. Dan bendungan itu kemudian sama sekali sudah tidak menarik lagi baginya.

Karena itu, tanpa memberitahukan kepada siapapun juga, Temunggul melangkah naik ke atas tebing yang landai, kemudian berjalan menyusur tanggul. Kepalanya sekali-kali tertunduk dan sekali-kali menengadah, oleh kepepatan isi dadanya.

Temunggul tertegun ketika ia melihat Suwela sedang sibuk memperbaiki pematang sawahnya. Perlahan-lahan ia mendekatinya sambil berkata, “Kenapa pematangmu?”

“Anak-anak nakal,” jawabnya, “Mereka mencuri belut disini, sehingga pematangku hampir putus.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Suwela adalah orang yang pertama-tama ditemuinya, kecuali gadis-gadis dan orang-orang yang tidak begitu dekat. Sedang Suwela adalah salah seorang dari para pengawal yang dipimpinnya.

Tiba-tiba saja Temunggul yang merasa dadanya terlampau pepat itu pun ingin mengurangi beban yang serasa memberatinya. Maka katanya berbisik, “He, aku mendengar sebuah berita yang menarik. Apakah kau mau mendengar?”

Suwela meletakkan cangkulnya. “Tentang?”

Temunggul menjadi agak bingung. Yang manakah yang akan dikatakan kepada Suwela untuk mengurangi beban perasaannya. Tentang hubungan Ki Demang dengan Panembahan Sekar Jagat? Tentang Bramanti dan Panggiring atau tentang gadis yang sudah lama dikenalnya, tetapi baru pagi ini ia melihat matanya yang lincah dan cerah.

“Tentang apa?”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyimpan semuanya di dalam hati tanpa menumpahkannya kau harus berjanji bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”
(Bersambung)-m

Leave a Reply