Tanah Warisan 240

Jumat, 12-04-2002
Suwela berpikir sejenak, kemudian, “Baiklah, aku berjanji.”
“Panggiring ada disini sekarang.”

“He? Panggiring kakak seibu Bramanti?”

“Ya. Dan Bramanti menjadi gelisah. Ia berusaha menolak kedatangan perampok yang ganas itu.”

“Tentu. Tentu Bramanti menolaknya.”

Sejenak mereka masih berbicara. Kening mereka berkerut merut. Dan pembicaraan mereka tampaknya menjadi bersunguh-sungguh.

“Tetapi ingat, jangan kau katakan kepada siapapun juga.”

Suwela menganggukkan kepalanya, “Tentu. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Temunggul pun kemudian meninggalkan Suwela yang melanjutkan kerjanya, memperbaiki pematang sawahnya. Namun Suwela itu pun terhenti pula ketika ia melihat kawannya, seorang pengawal yang lain lewat di atas pematang yang sedang diperbaiki.

“Hus, seharusnya kau mencari jalan lain.”

“Kenapa?”

“Bukankah kau lihat bahwa pematangku sedang aku perbaiki? Kalau kau injak juga, maka bagian yang baru saja aku tambal itu akan longsor.”

“Dukung aku, supaya pematangmu tidak rusak.”

“Aku memang ingin melemparkan kau ke dalam parit itu.”

Kawan Suwela itu tersenyum. Tetapi ia berjalan turun. Ketika ia sampai ke bagian yang baru diperbaiki, ia pun turun ke dalam parit sambil bergumam, “Aku masih menaruh belas kasihan kepadamu. Biarlah kakiku menjadi agak kotor dan dingin.”

“Kalau kau tidak mau turun, aku seret kau.”

Kawannya tertawa. Tetapi tiba-tiba Suwela berbisik, “He berhentilah sebentar.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dan Suwela mendekatinya, “Kau mau mendengar? Tetapi janji, bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada orang lain.”

“Apa?”

“Bramanti telah siap melawan Panggiring.”

“He,” pengawal itu pun terkejut.

“Ya. Mereka memang sudah saling mendendam. Dan agaknya mereka akan bertempur.”

“Darimana kau dengar?”

“Temunggul. Tetapi ingat jangan kau katakan kepada orang lain lagi. Nanti aku dicekiknya.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih bertanya beberapa hal. Dan Suwelapun telah mengarang sebuah ceritera yang paling menyeramkan tentang Panggiring dan Bramanti.

“Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Sepeninggalan kawannya, Suwela pun telah tenggelam lagi di dalam kerjanya. Namun sementara itu berita tentang Panggiring telah merambat ke setiap telinga. Setiap kata mereka berpesan, “Ingat, jangan kau katakan kepada orang lain,” Namun belum tengah hari hampir seisi Kademangan telah mendengar bahwa Panggiring telah berada di sekitar Kademangan itu.

Leave a Reply