Tanah Warisan 242
Senin, 15-04-2002
Dada Bramanti berdesir mendengar tuduhan itu. Secercah warna merahpun membayang pulang di wajahnya. Bagaimana pun juga terasa kata-kata Ki Tambi itu menyengat telinganya, dan membekas dijantungnya.
Meskipun ia masih berusaha menahan hati, namun terloncat pula jawabannya, “Paman tergesa-gesa melontarkan kata-kata itu. Apakah paman yakin bahwa kakang Panggiring berkata sebenarnya? Apakah paman percaya sepenuhnya bahwa kakang Panggiring mengatakan penyesalannya itu dari lubuk hatinya, dari dasar hati manusianya? Bagaimanakah jadinya apabila pada suatu ketika kakang Panggiring itu sendiri telah menelan paman dan seluruh Kademangan ini? Aku tidak percaya. Kalau dengan demikian paman menuduh aku tidak berperikemanusiaan, terserahlah. Tetapi aku ingin berhati-hati.”
Ki Tambi mengatubkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia pun segan bertengkar dengan Bramanti yang selama ini dikaguminya.
“Tidak ada gunanya kalian berbantah,” terdengar suara Nyai Pruwita yang tersendat-sendat. “Aku memang sudah mengambil keputusan, bahwa seandainya Panggiring meninggalkan Kademangan ini. Seandainya ia memaksa dan berkeras hati, akibatnya sama sekali tidak akan aku inginkan.”
Ki Tambi menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik Nyai. Aku akan mengatakannya. Aku bukan sanak dan bukan kadangnya. Apapun yang akan terjadi atas anak itu sama sekali bukan tanggung jawabku. Aku sudah menyampaikan pesan yang seharusnya aku sampaikan, dan aku sudah mendengar jawabannya.”
“Ki Tambi,” potong perempuan tua itu.
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan lesu ia berdiri dan berkata hambar, “Aku minta diri. Nanti malam aku akan menyampaikan jawaban ini kepadanya.”
Ki Tambi tidak menunggu jawaban siapapun. Segera ia melangkah meninggalkan ruangan itu.
Sejenak ruangan yang ditinggalkan oleh Ki Tambi itu serasa membeku. Nyai Pruwita masih tetap ditempatnya dan Bramanti pun belum beranjak pula.
Dan tiba-tiba saja kebekuan itu telah dipecahkan oleh tangis Nyai Pruwita yang tidak dapat ditahankannya pula. Sekali lagi ia menangis sejadi-jadinya, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati ibunya dan kemudian berjongkok di hadapannya. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ibu, aku telah menyakiti hati ibu.”
Nyai Pruwita mengangkat wajahnya, tetapi air matanya masih tetap mengalir tanpa tertahankan lagi.
Tiba-tiba diraihnya kepala anaknya sambil berdesis, “Kau tidak bersalah Bramanti. Kau tidak bersalah.”
Bramanti tidak menjawab. Dibiarkannya ibunya memeluk kepalanya dan dibiarkannya rambutnya dibasahi dengan air mata.
Meskipun tidak terucapkan namun perempuan tua itu melanjutkannya di dalam hati. “Akulah yang bersalah di masa muda itu. Akulah yang bersalah, sehingga terentang jurang yang dalam di antara kedua anak-anakku.”
Dan kata-kata itu selalu diulang-ulang. Selalu terucapkan didalam hatinya. Sehingga dengan demikian maka hati itupun terasa menjadi semakin pedih.
Ketika kemudian tangis perempuan itu mereda, dilepaskannya kepala anaknya. Perlahan-lahan perempuan itu berdiri. Alangkah hausnya. Serasa sudah berhari-hari ia tidak menenguk air.
Setelah menengguk air dari dalam kendi yang terletak digeledek kayu, maka perempuan itu pun berkata, “Aku akan menanak nasi, Bramanti.”
Bramanti mengangguk kaku. Jawabnya, “Sebaiknya ibu beristirahat meskipun hanya sejenak, untuk menentramkan perasaan ibu.”
“Aku tidak apa-apa.” (Bersambung)-o
Posted on December 23rd, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 204 Views





Leave a Reply