Tanah Warisan 243
Sun. December 23, 2007Categories: Tanah warisan
Selasa, 16-04-2002
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dengan lesu ia menyeret kakinya keluar dari rumahnya, melintasi pendapa dan turun ke halaman. Dipandanginya kehijauan dedaunan yang selama ini dipeliharanya baik-baik. Pohon sawo yang sedang berbuah. Beberapa potong bambu anyaman dibawah pohon sawo itu. Kandang yang telah diberinya berdinding. Pagar batu, regol yang telah rapat dan atap rumahnya yang tidak berbahaya lagi. Keseluruhan rumahnya telah menjadi utuh lagi, meskipun belum berisi seperti masa hidup ayahnya.
Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya. Terbayang dikepalanya tangan-tangan yang halus sedang membersihkan regol rumahnya. Tangan Ratri. Tetapi apakah Ratri telah melakukan untuknya? Tidak untuk Panggiring.
Bramanti menggeram di dalam hatinya. “Tidak. Panggiring tidak akan pernah menyentuh halaman, regol dan apalagi rumah ini. Aku tidak akan memberikannya walaupun secuil tanah disudut yang paling jauh.”
Bramanti terperanjat ketika ia mendengar pintu regol itu bergerit. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok tubuh menyelinap masuk. Temunggul.
“O, kau,” sapa Bramanti.
Temunggul menganggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia melangkah masuk, “Tidak ada seorang pun yang datang kemari?” bertanya Temunggul.
“Baru saja paman Tambi datang kemari.”
“O,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang penting?”
Bramanti menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak ada sesuatu apapun. Paman Tambi hanya singgah sebentar.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas terngiang pesan Ki Demang untuk membunuh anak muda itu. Dimana saja ada kesempatan. Di rumah, di sawah atau di manapun. Dengan demikian ia akan memiliki Ratri dan kesempatan yang baik.
“Tetapi Ratri acuh tak acuh kepadaku. Buat apa aku melakukan kegilaan itu apabila kelak justru Ratri akan mengutukku?”
“Marilah,” ajak Bramanti. Dan Temunggul yang bimbang itu tergagap.
Bramanti kemudian mengajak Temunggul duduk di bawah pohon sawo yang sedang berbuah, seperti kebiasaan mereka, apabila mereka tidak duduk di dalam kandang.
“Darimana kau Temunggul?” bertanya Bramanti.
Temunggul mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Itu tidak penting, Bramanti.”
“Apakah kau membawa berita atau pesan atau ada yang lebih penting?”
Temunggul masih saja dicekam oleh keragu-raguan. Apakah bijaksana untuk mengatakan keseluruhannya dibumbui oleh prasangka yang belum dapat dibuktikannya atas Ki Demang.
“Kau tampak ragu-ragu,” tebak Bramanti.
“Ya, aku ragu-ragu,” jawab Temunggul. Namun kemudian ia mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari apa yang menggelepar di dalam dadanya. Kalau ia mengatakan seluruhnya tentang Ki Demang ia khawatir apabila Bramanti segera bertindak. Dengan demikian maka ia tidak akan dapat melihat peran apakah yang sebenarnya dilakukan oleh Ki Demang.
Karena itu, maka Temunggul pun kemudian berkata, “Bramanti, aku mendengar keterangan, bahwa Panembahan Sekar Jagat sudah merasa perlu untuk bertindak.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Dengan bersungguh-sungguh ia bertanya, “Dari siapa kau tahu?”
“Seseorang telah mengatakan kepadaku bahwa sehari dua hari ini, mereka akan datang. Terutama mereka ingin melepaskan sakit hati atas kekalahan Sapu Angin dan bahkan orang itu telah terbunuh pula.” (Bersambung)-m
Comments