Tanah Warisan 244
Rabu, 17-04-2002
“Apakah kabar itu dapat dipercaya?”
“Aku menganggap bahwa kita harus meningkatkan kewaspadaan.”
“Ya, tetapi dari siapa kau mendengar?”
“Dari Ki Demang?.”
“Darimana ia tahu.”
Itulah yang ingin aku ketahui. Tetapi biarlah kita tidak menghiraukannya. Mungkin yang dikatakan itu mengandung kebenaran, meskipun maksudnya bukan suatu pemberitahuan untuk bersiap menyambut kedatangan mereka.”
Bramanti semakin tidak mengerti. Karena itu ia bertanya pula, “Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh Ki Demang?”
“Aku memang sedang mencari. Tetapi tentang Panembahan Sekar Jagat itu agaknya dapat kita percaya. Selebihnya aku belum dapat mengatakan sekarang. Meskipun aku sedang menduga bahwa perbuatan Ki Demang kurang menguntungkan. Mungkin ia dicengkam oleh ketakutan bahwa Kademangan ini benar-benar akan hancur atau kecemasan yang lain, sesuai dengan kepentingan pribadinya.”
“Supaya ia tetap menjadi seorang Demang, maksudmu?”
“Ya.”
“Bukankah tidak ada orang lain yang membayangkan jabatan itu sekarang?”
Temunggul menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Meskipun demikian, ia harus berhati-hati.”
Bramanti mengangguk pula. “Tetapi apakah sebenarnya maksudnya dengan keterangannya itu?”
Temunggul menarik nafas. Ia harus menahan dulu untuk menyimpan sebagian dari persoalan yang masih akan dibuktikannya itu. Maka jawabnya, “Aku masih kabur menangkap sikap Ki Demang, Bramanti. Tetapi yang penting bagi kita, Panembahan Sekar Jagat dapat datang setiap saat.”
“Sudah tentu kita harus semakin berhati-hati.”
Dan tiba-tiba saja Temunggul berkata, “Dan justru pada saat Panggiring ada di Kademangan ini.”
“He,” Bramanti terkejut, “Darimana kau tahu?”
Temunggul pun terkejut pula. Tanpa disengaja kata-kata itu terloncat dari mulutnya, sehingga karena itu, sejenak ia terdiam. Namun dadanya telah berdebaran. Terngiang pesan Panjang kepadanya, “Jangan kau katakan kepada orang lain. Kau janji?” Dan ia sudah berjanji.
“Darimana kau dengar bahwa kakang Panggiring telah berada disini?”
Temunggul tidak dapat ingkar lagi. Jawabnya, “Tetapi bukan salah Panjang, Bramanti. Aku memang melihat kegelisahan padamu dalam saat-saat terakhir ini. Aku sudah mencoba bertanya kepada Ki Tambi, tetapi ia tidak dapat memberikan jawaban. Bahkan Ki Tambi sendiripun tampaknya seperti orang bingung,” Temunggul berhenti sejenak lalu, “Kemudian aku berusaha mendesak Panjang untuk bertanya kepadamu tentang hal itu. Mula-mula ia berkeberatan, tetapi karena aku selalu mendesaknya akhirnya ia mengatakannya. Agaknya kau digelisahkan oleh kehadiran Panggiring di Kademangan ini.”
Bramanti mendengar keterangan itu dengan hati berdebar-debar. Kepalanya tertunduk, namun nafasnya serasa menjadi semakin cepat mengalir.
“Ya,” desisnya kemudian. “Kakang Panggiring memang telah berada di Kademangan ini.”
“Nah, apakah kau tidak mencoba menghubungkan kehadirannya dengan keterangan tentang Panembahan Sekar Jagat itu?”
Bramanti tidak segera menjawab. Tetapi kegelisahan padanya serasa menjadi semakin memuncak. Dicobanya untuk menarik kesimpulan seperti yang dilakukan oleh Temunggul. Tetapi untuk mengurangi getar di dadanya sendiri ia beratnya di dalam hati, “Tidak. Bukan Panggiring.”
Posted on December 25th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 215 Views





Leave a Reply