Tanah Warisan 247
Sabtu, 20-04-2002
“Kenapa takut? Bukankah mereka kakak beradik.”
“Tetapi Bramanti tidak senang menerima kedatangan seorang perampok yang ganas dirumahnya. Itu akan sangat berbahaya bagi dirinya dan bagi Kademangan ini. Mungkin Panggiring ingin merampok setiap rumah seperti yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat.”
Sepercik kekecewaan membayang di wajah Ratri. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Jadi bagaimana dengan Panggiring sekarang?”
“Ia harus pergi. Bramanti dan seluruh Kademangan ini tidak akan menerimanya.”
“Mustahil,” sahut Ratri, “Meskipun barangkali setiap orang Kademangan ini membencinya, tetapi Bramanti pasti akan menerimanya. Bukankah Panggiring itu kakaknya.
“Kakak seibu, tetapi tidak seayah.”
“Apakah salahnya? Mereka dilahirkan oleh seorang perempuan yang sama.”
Kawannya menjadi heran, “Kenapa kau begitu menaruh perhatian kepadanya?”
“O,” Ratri tergagap pula, “Tidak. Aku sama sekali tidak menaruh perhatian apapun.”
Namun ketika kawannya itu pergi meninggalkannya, maka mulailah Ratri tenggelam di dalam angan-angannya. Serasa masih baru kemarin saja terjadi.
Ratri menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali masa kanak-kanaknya yang manis. Terbayang di dalam ingatannya, seorang anak muda yang masih sangat remaja, yang sering dijumpainya duduk seorang diri dibawah bendungan. Wajahnya kelihatan pucat, tetapi ia sangat baik dan ramah.
“Kenapa kau selalu menyendiri?” bertanya Ratri.
Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Dipaksanya bibirnya tersenyum sambil menjawab, “Tidak apa-apa,” lalu, “Hei kenapa kau kemari seorang diri? Tebing itu licin. Kau dapat tergelincir.”
“Ibu dan ayah berada di sawah, disebelah tanggul itu.”
Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi jangan disini seorang diri. Mari, aku antar kau naik.”
Panggiring kemudian menggandengnya dan membawanya naik. Kemudian kembali Panggiring turun dan duduk seorang diri di atas sebuah batu.
Ratri menarik nafas dalam-dalam. Saat itu ia masih seorang kanak-kanak. Tetapi ia sangat tertarik kepada seorang yang bernama Panggiring. Meskipun ia seorang pendiam, tetapi terasa hatinya yang halus dan lembut.
“Panggiring bersikap manis pula terhadap Bramanti sejak kanak-kanak,” katanya di dalam hati. Sekilas terbayang anak itu mendukung adiknya berjalan di pematang. Mencarikan permainan apa saja yang diinginkannya.
“O,” desisnya. “Bramanti harus ingat hal itu. Kenapa ia menolaknya? Panggiring menangis kalau adiknya menangis, dan Panggiring tertawa kalau Bramanti tertawa.”
Ratri mengerutkan keningnya. Ia masih ingat jelas bagaimana Panggiring berkelahi dengan anak yang lebih besar daripadanya, karena anak itu telah memukul Bramanti.
“Luar biasa,” desis Ratri. Tiba-tiba ia tersenyum. Meskipun Panggiring lebih kecil dari lawannya, dan meskipun Panggiring kemudian berlumuran darah yang keluar dari mulutnya, namun ia berhasil mengusir anak itu.
Ratri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia mengeluh, “Memang sayang, Panggiring tidak sepantasnya menjadi seorang penjahat. Ia sama sekali tidak jahat.”
Tetapi Ratri tidak dapat melupakan kenangan dimasa kanak-kanaknya, meskipun hal itu sudah lama sekali lampau.
Sementara itu, anak-anak muda Kademangan Candi Sari menjadi sibuk, berkeliaran kian kemari. Mereka saling memberitahukan pesan Temunggul, agar mereka menjadi semakin berhati-hati. Keadaan serasa menjadi semakin panas. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka harapkan akan dapat terjadi setiap saat.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 197 Views





Leave a Reply