Tanah Warisan 250

Selasa, 23-04-2002
 “Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”

Demikianlah, maka di gardu-gardu yang lainpun, sekelompok anak-anak muda telah berkerumun. Rasa-rasanya malam itu memang lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun hampir setiap malam mereka selalu diganggu oleh kecemasan, namun malam itu serasa menjadi lebih hangat.

Meskipun sebagian dari anak-anak muda itu tertidur, namun ada juga di antara mereka yang sibuk bermain-main. Macanan, bas-basan dan permainan-permainan yang lain. Bahkan ada juga di antara mereka yang berteka-teki dan ada juga yang sibuk berbantah tentang sesuatu yang sama-sama tidak mereka mengerti.

Demikianlah malam semakin lama menjadi semakin larut.

Dalam keremangan malam itu, sesosok tubuh yang berkerudung dalam-dalam, hampir menutup seluruh wajahnya, tertatih-tatih keluar dari rumahnya. dengan kaki gemetar dan dada berdebaran ia berjalan tersorok-sorok di sepanjang jalan padukuhan. Sekali-kali ia berhenti, menarik nafas dalam-dalam.

Kadang-kadang dengan kedua tangannya bertelekan pinggangnya ia mencoba untuk menggeliat. Dan sesaat kemudian dilanjutkannya langkahnya.

Dengan hati-hati ia memilih jalan yang jarang-jarang dilalui oleh para penjaga. Jalan-jalan sempit dan jalan-jalan memintas. Dihindarinya gardu-gardu peronda dan tikungan-tikungan yang mungkin diawasi.

Meskipun nafasnya seakan-akan berkejaran dilubang hidungnya, namun ia berjalan juga didalam gelapnya malam.

Orang itu menghirup udara malam yang segar ketika ia telah berada diluar padukuhan. Kini langkahnya satu-satu menyusur pematang yang terbujur disisi sebuah parit.

Ketika ia sampai ketempat yang ditujunya, ia menarik nafas sekali lagi. Belum ada seorangpun ditempat itu. Karena itu, maka ia pun segera mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya, berjongkok di dalam rimbunnya daun padi yang mulai subur.

Nyamuk yang menggigit bagian-bagian tubuhnya tidak dihiraukannya. Bahkan dinginnya air yang tergenang dibawah kakinya pun sama sekali tidak terasa. Hatinya telah terampas oleh ketegangan yang mencekamnya selama ini.

Orang itu semakin meringkas dirinya ketika ia melihat seseorang berjalan kearahnya. Perlahan-lahan dan kemudian berhenti beberapa langkah dari padanya.

Orang yang bersembunyi itu menarik nafas dalam-dalam. Orang yang datang itu memang orang yang diharapkannya. Ki Tambi. Namun dengan demikian ia masih harus menunggu sejenak.
Bersambung

Leave a Reply