Tanah Warisan 251
Rabu, 24-04-2002
Alangkah tersiksanya ia menunggu sambil berendam di dalam air. Namun ia sudah bertekad untuk menunggu. Karena itu, maka ia masih tetap pula berada di tempatnya.
Akhirnya yang ditunggunya itu pun datang pula. Sesosok tubuh yang hampir tidak dikenalnya sama sekali. Panggiring.
“Kau Panggiring?” terdengar suara Ki Tambi yang menyongsongnya.
“Ya paman. Aku datang memenuhi janjiku kemarin. Aku ingin mendengar apakah aku diijinkan untuk datang, meskipun hanya sekejap.”
“Duduklah,” desis Ki Tambi. Ia menjadi bingung, bagaimanapun ia harus menyampaikan kepada anak muda itu. Permintaannya yang paling sederhana tetapi merupakan ungkapan perasaan yang paling dalam itu pun tidak dikabulkannya.
“Terima kasih paman,” jawab Panggiring. “Tetapi agaknya aku tidak akan terlalu lama disini.”
“Kenapa?”
Panggiring mengangkat wajahnya.
“Apakah kau mendengar sesuatu?”
Bagaimana pun juga, telinga Panggiring adalah telinga yang memiliki ketajaman yang luar biasa. Tanpa dikehendaki sendiri, ia masih juga mendengar desah nafas seseorang disekitarnya, meskipun ia belum melihat orang itu. Namun beberapa saat kemudian, ia segera dapat mengetahui, dimana orang itu bersembunyi.
“Katakan, apakah kau mendengar atau melihat sesuatu?”
“Kalau begitu duduklah.”
Panggiring pun kemudian duduk pula di sampingnya. Dicobanya untuk mengendapkan perasaannya, agar ia dapat menyampaikan jawab keluarga Panggiring itu dengan baik.
“Bagaimana paman, apakah paman sudah sempat menemui ibu dan Bramanti?”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.
Namun ternyata tanggapan perasaan Panggiring terlampau tajam sehingga sebelum Ki Tambi menjawab, sudah terasa dihati anak muda itu. Seolah-olah ia dapat membaca wajah Ki Tambi yang bimbang.
Maka sejenak kemudian terdengar suara Panggiring di antara tarikan nafasnya, “Agaknya paman segan menyampaikan jawaban itu. Tetapi dengan demikian aku sudah dapat menduganya,” Panggiring berhenti sejenak. Suaranya merendah dan bergetar, “Baiklah paman. Aku memang sudah terlampau kotor untuk menyentuh keluargaku dan menginjak halaman rumah ibu. Aku menyadari hal itu. Namun alangkah berat hukuman yang harus aku sandang. Terpisah sama sekali dari ibu dan adikku. Agaknya pintu sudah tertutup rapat. Tidak ada kesempatan sama sekali, meskipun hanya sekadar menjenguk.”
Terasa sesuatu menyumbat kerongkongan Ki Tambi yang tua itu. Tiba-tiba saja ditepuknya pundak Panggiring kemudian diguncangkannya sambil berkata tersendat-sendat, “Panggiring, sudah aku katakan. Kau tinggal dirumahku.”
“Terima kasih paman. Aku harus menyadari sekarang, bahwa bukan saja keluargaku, tetapi seisi Kademangan itu tidak akan dapat menerima aku kembali.”
“Tidak. Bohong. Darimana kau dengar?”
“Aku melihat penjagaan yang menjadi demikian ketatnya. Agaknya memang sudah dipersiapkan, bahwa aku tidak boleh mendekati Kademangan ini. Mereka masih dipengaruhi oleh cara hidupku yang lama, sehingga cara yang mereka pergunakan untuk mencegah akupun masih dengan cara yang sesuai untuk Panggiring yang kotor itu.”
“Apakah kau melihat sendiri?”
Panggiring menganggukkan kepalanya.
“Tetapi kau salah Panggiring. Penjagaan yang ketat itu sama sekali tidak diperuntukkan bagimu. Mereka tidak dengan sengaja menjada Kademangan ini agar kau tidak memasukinya.”
Panggiring mengerutkan keningnya.
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 205 Views





Leave a Reply