Tanah Warisan 252
Kamis, 25-04-2002
“Mereka berada dalam kesiap siagaan penuh karena mereka mendengar…..,” Ki Tambi berhenti sejenak. Tiba-tiba terbersit dugaan seperti yang pernah didengarnya dari mulut-mulut anak-anak muda, “Apakah tidak mungkin bahwa Panembahan Sekar Jagat itu juga Panggiring?”
“Tidak, tidak mungkin,” Ki Tambi berteriak di dalam hatinya. “Menurut perhitungan waktu, Panembahan Sekar Jagat telah ada disekitar daerah ini seperti yang mereka katakan, pada saat Panggiring masih berkuasa di pesisir Utara.”
Dan Ki Tambi itu berpaling ketika ia mendengar Panggiring bertanya, “Lalu, kenapa mereka kelihatan terlampau sibuk?”
“Kau pasti pernah mendengar Panggiring, bahwa Panembahan Sekar Jagat sering datang ke padukuhan ini.”
Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Menurut pendengaran kami yang terakhir, Panembahan Sekar Jagat akan segera datang. Bahkan mungkin malam ini. Ia merasa terhina sekali karena kepercayaannya terbunuh oleh Bramanti.”
Panggiring mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja dadanya menjadi berdebar-debar.
“Jika demikian paman,” berkata Panggiring kemudian, “Sebaiknya aku tidak mengganggu kalian. Bukankah Ki Tambi pun memegang peranan dalam kesiapsiagaan itu?”
“Tidak Panggiring. Semuanya ada ditangan Bramanti dan Temunggul meskipun aku tidak dapat mencuci tangan. Tetapi tenagaku adalah tenaga orang tua. Dan orang tua yang paling bertanggung jawab adalah Ki Jagabaya.”
“Tetapi paman pasti diperlukan,” sahut Panggiring, “Karena itu, aku minta diri paman. Aku sangat berterima kasih kepada paman. Aku akan menjalani hukuman yang terasa terlampau berat bagiku. Tetapi percayalah, bahwa aku tidak akan tergelincir ke dalam dunia yang hitam itu kembali. Aku akan mencoba memenuhi nasehat ibu, untuk mencari daerah yang baru sama sekali. Daerah yang belum pernah mengenal Panggiring. Aku akan hidup seperti kebanyakan orang dan bekerja keras untuk mendapatkan makan dan minum seperti yang harus dijalani oleh setiap orang.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang. Sayang sekali Panggiring. Aku tidak dapat berbuat lebih banyak.”
“Paman sudah berbuat terlampau banyak. Aku sangat berterima kasih,” Panggiring berhenti sejenak, kemudian, “Paman, karena aku tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan ibu dan Bramanti, maka biarlah aku menyampaikan baktiku lewat paman. Salamku buat Bramanti, mudah-mudahan ia kelak menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya yang kecil dan bagi Kademangannya.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Aku akan segera minta diri, supaya aku tidak mengganggu. Panembahan Sekar Jagat memang bukan seorang yang dapat dianggap ringan. Karena itu, tenaga paman dan setiap orang di Candisari pasti diperlukan.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
Panggiring pun kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali ia berpaling kesuatu arah sambil mengerutkan keningnya. Namun ia tidak berkata apapun tentang pendengarannya.
Ki Tambi yang kemudian juga berdiri memegang kedua bahu Panggiring sambil berkata, “Maafkan aku Panggiring. Aku sudah berusaha. Tetapi aku tidak berhasil.”
“Paman tidak bersalah. Memang sudah sepantasnya aku dihukum. Karena aku tidak terkena hukuman yang seharusnya dilakukan oleh orang lain atau oleh orang-orang yang memang berkewajiban, maka aku telah menerima hukuman dari keluargaku sendiri,” dan suara Panggiring merendah, “Tetapi hukuman ini terasa terlampau berat. Berat sekali.”
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 197 Views





Leave a Reply