Tanah Warisan 253

Jumat, 26-04-2002
 Ki Tambi tidak menyahut. Kepalanya pun kemudian tertunduk. Ia tidak sampai hati menatap wajah anak muda yang muram itu. Wajah itu sama sekali bukan wajah Panggiring yang ditemuinya di pesisir Utara. Bukan wajah seorang perampok yang ganas. Tetapi wajah itu adalah wajah yang sedih.

“Aku minta diri paman. Mungkin aku tidak akan pernah menjenguk paman lagi. Tanah kelahiran ini harus aku tinggalkan untuk selama-lamanya,” Panggiring berhenti sejenak, “Tetapi aku tidak akan pernah melupakannya. Di masa kanak-kanak aku bermain disini, disawah, dibendungan dan di halaman Candi tua itu. Tetapi semuanya itu hanya akan tinggal menjadi kenangan.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa jantungnya menjadi berdentang dan dadanya menjadi pepat.

“Selamat tinggal paman. Aku masih tetap menyimpan lencana bergambar Candi. Lencana itu akan dapat merangkum semua kenangan hidupku yang pahit.”

“Panggiring,” desis Ki Tambi.

Dan Ki Tambi masih mendengar Panggiring, orang yang selama ini tidak pernah mendesah itu mengeluh, “Hidupku memang pahit paman.”

Ki Tambi tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa tersumbat.

“Selamat tinggal paman,” lalu dipandainginya bayangan hitam yang membujur dihadapannya, seperti sebuah bukit karang yang mencuat di atas lautan yang hijau, “Selamat tinggal kampung halaman, ibu dan Bramanti.”

Suasana jadi hening sejenak. Sepi. Yang terdengar adalah derik-derik bilalang bersahut-sahutan. Di atas daun-daun padi yang terhampar berkeredipan cahaya kunang-kunang yang muram.

Tiba-tiba suasana itu pecah oleh suara isak tangis. Ki Tambi terperanjat bukan kepalang. Dan Panggiring terkejut pula karenanya. Meskipun ia tahu benar, bahwa seseorang sedang mengintainya, namun ia tidak tahu siapakah orang itu. Dan kini tiba-tiba saja ia mendengar orang itu terisak.

Dari balik daun padi muncullah sesosok tubuh yang berkerundung dalam-dalam. Tanpa dapat mengendalikan dirinya, orang itu menangis sejadi-jadinya.

“Panggiring,” terdengar suara di antara isak tangis itu.

Panggiring tertegun.

Tertatih-tatih orang yang berkerudung itu melangkah mendekat. Sekali-kali kakinya terperosok ditanah berlumpur.

“Panggiring,” sekali lagi orang itu memanggil.

Dan kini Panggiring dan Ki Tambi tidak ragu-ragu lagi. Suara itu adalah suara Nyai Pruwita.

Sejenak Panggiring membeku ditempatnya. Wajahnya menjadi tegang. Bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan.

Ketika orang yang berkerundung itu telah berdiri dipematang, maka Panggiring tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta ia meloncat dan berjongkok dihadapannya, “Ibu, ibu.”

Tangan yang lemah itu pun kemudian meraih kepala Panggiring. Didekapnya kepala itu erat- erat. Namun justru mulut perempuan tua itu terasa terbungkam. Hanya air matanya saja yang meleleh, menitik di atas kepala anaknya.

Tetapi tangannya semakin erat memeluk kepala anaknya itu. Anaknya yang telah hilang dan kini diketemukannya kembali.

Ki Tambi berdiri tegak seperti patung. Ia melihat pertemuan yang tidak disangka-sangka itu dengan mata tuanya yang basah. Betapa hati seorang ibu yang merasa menemukan kembali apa yang telah hilang daripadanya.

“Ternyata Nyai Pruwita tidak dapat menahan perasaannya. Alangkah pedihnya hati perempuan itu,” berkata Ki Tambi dalam hatinya, “Ia tidak dapat melawan kehendak Bramanti, tetapi ia juga tidak dapat melawan perasaan seorang ibu.”

Leave a Reply