Tanah Warisan 254
Sabtu, 27-04-2002
Dan Ki Tambi itu pun menyaksikannya sambil menyapu dadanya dengan telapak tangannya. Dalam pada itu, seorang pengawal telah berlari-lari masuk kehalaman Kademangan dengan nafas terengah-engah. Ketika kawannya bertanya kepadanya, maka tanpa menghiraukan pertanyaan itu ia berdesis, “Dimana Bramanti?”
“Kenapa? Apakah kau melihat sesuatu? Panembahan Sekar Jagat barangkali?”
Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Langsung ia naik kependapa sambil bertanya-tanya, “Dimana Bramanti?”
“He,” terdengar suara Bramanti justru dihalaman, “Aku disini.”
“O,” pengawal itu pun kemudian berlari menemuinya. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir.
Bramanti pun menjadi berdebar-debar karenanya. Karena itu, maka ia pun menyongsong anak itu pula.
Sejenak kemudian, para pengawal telah mengerumuni kawannya yang barlari-lari itu. Dengan tidak sabar lagi, terdengar beberapa orang bertanya, “Kenapa kau berlari-lari he?”
“Bramanti,” katanya disela-sela nafasnya. “Adalah kebetulan sekali bahwa aku berada dipinggir desa melihat sawahku sebelum aku pergi ke gardu.”
“Ya.”
“Diperjalanan kembali, aku melihat sesosok yang mencurigakan. Yang berjalan terbungkuk-bungkuk sambil berkerudung. Karena itu maka aku segera bersembunyi dan mengintipnya.”
“Ya, lalu?”
“Orang itu pergi ketengah sawah.”
“Ya. Tetapi kau belum menyebutkan siapa orang itu.”
Pengawal itu menelan ludahnya. Dipandanginya wajah-wajah yang tegang diseputarnya. Kemudian dengan suara parau ia berkata, “Orang itu ternyata seorang perempuan.”
“Ya, tetapi siapa dan kenapa dengan perempuan itu?”
“Aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Tetapi perempuan itu adalah ibumu Bramanti.”
“Ibu? Ibuku?”
Pengawal itu mengaku, “Ya.”
“Apakah kau tidak salah lihat?”
“Tidak. Aku pasti bahwa perempuan itu adalah ibumu.”
Darah Bramanti serasa menjadi semakin cepat mengalir. Sejenak ia berpikir. Apakah yang sedang dilakukan oleh ibunya itu?”
Tiba-tiba teringat olehnya ceritera Ki Tambi, bahwa malam ini Panggiring akan menemui Ki Tambi untuk mendapatkan jawaban atas permintaannya.
“Apakah ibu berusaha bertemu dengan kakang Panggiring?” terbersit pertanyaan di dalam hatinya.
Dengan demikian maka keringat dingin telah mengalir di punggung Bramanti. Dengan serta merta ia berkata kepada para pengawal yang ada disekitarnya, “Aku akan pergi menyusul,” dan diluar sadar ia melanjutkan, “Mungkin ibu sedang pergi menemui Panggiring.”
“Panggiring?” hampir bersamaan beberapa buah mulut telah mengulang nama itu.
Bramanti tertegun sejenak. Barulah ia menyadari kekeliruannya. Tetapi ia tidak akan dapat lagi mencabut kata-kata yang sudah terucapkan, sehingga sambil mengangguk ia menjawab dengan nada dalam. “Ya Panggiring.”
Anak muda itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa sesadarnya pula ia meraba hulu pedang pendeknya. Kemudian dengan langkah yang tergesa-gesa ia meninggalkan halaman Kademangan.
Beberapa orang anak muda yang ada di halaman itu saling berpandangan sejenak. Tanpa berjanji maka mereka pun kemudian bergerak serentak menyusul langkah Bramanti. (Bersambung)-m
Posted on December 26th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 180 Views





Leave a Reply