Tanah Warisan 258

Kamis, 02-05-2002
 “Tidak. Belum selesai. Selama masih ada hubungan antara Candisari dengan kakang Panggiring, maka persoalan masih akan berkepanjangan.”
“Terlalu kau Bramanti. Hubungan manusia adalah wajar. Jangankan dengan seorang yang memang dilahirkan ditempat ini. Dengan siapapun kau tidak akan dapat menghalang-halangi.”

“Tetapi tidak dengan seorang yang tangannya berbau darah.”

“Bramanti,” Ki Tambilah yang berteriak. “Begitukah sambutanmu atas kedatangan kakakmu, saudaramu? Ingat, apakah yang kau alami pada saat kau menginjakkan kakimu di Kademangan ini. Setiap orang mencurigaimu. Setiap orang membencimu. Tetapi kau dapat diterima oleh ibumu, kau tahu itu. Dan ternyata kau tidak sejahat yang dikatakan tentang dirimu. Setiap orang telah dimabukkan oleh prasangka. Dan sekarang kau, kau juga telah dicengkeram oleh prasangka serupa itu.”

“Tetapi prasangkaku beralasan,” jawab Bramanti.

“Sudahlah paman,” suara Panggiring berat, “Aku memang sudah minta diri. Aku akan pergi,” kemudian kepada Bramanti. “Baiklah Bramanti. Aku akan pergi jauh sekali.”

“Apakah aku dapat mempercayaimu?”

“Aku berkata sesuai dengan detak dalam dadaku. Terserahlah kepadamu, apakah kau akan mempercayainya atau tidak.”

“Tidak seorang pun lagi yang dapat mempercayai kau.”

“Bramanti,” potong Ki Tambi.

“Aku dapat mengerti paman. Tetapi baiklah, aku akan minta diri.” Kemudian kepada ibunya, “Ibu, anggaplah, bahwa ibu tidak mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang seorang itu telah mati ditelan oleh kejahatan yang pernah dilakukannya sendiri. Agaknya Bramanti telah cukup bagi ibu.”

Nyai Pruwita yang berdiri mematung itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya menjadi semakin keras dan air matanya semakin banyak meleleh di sela-sela jari tangannya.

“Sudahlah ibu,” berkata Panggiring kemudian, “Semuanya akan menjadi baik kelak. Keluarga yang aku tinggalkan, Kademangan Candisari, dan seluruh isinya.”

“Panggiring,” isak perempuan tua itu.

“Aku minta diri.”

Ibunya tidak dapat segera menyahut. Tangisnya sajalah yang terdengar di antara isaknya.

Namun sejenak kemudian terdengar hiruk pikuk orang-orang Candisari yang menyusul Bramanti. Mereka berjalan disepanjang pematang, menebar di beberapa jalur.

Panggiring mengangkat wajahnya. Sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sekilas dipandanginya wajah Ki Tambi yang tegang, sekilas kemudian ibunya, lalu Bramanti.

“Jangan takut,” desis Bramanti. “Orang-orang Candisari bukan orang-orang yang curang. Meskipun sebagian dari mereka menyangka bahwa kau adalah orang yang sama dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat, namun mereka tidak akan menjebakmu. Kalau kau ingin mendapat jalan untuk meninggalkan tempat ini, mereka pasti akan menyibak.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Ya, aku mengenal mereka. Agaknya mereka tidak berubah sampai sekarang.”

“Karena itu saya persilakan kakang Panggiring segera meninggalkan tempat ini.”

“Bramanti,” suara ibunya seakan-akan meledak, “Apakah kau tidak dapat merubah putusanmu itu?”

“Tidak ibu. Aku tetap pada pendirianku.”

“Kau terlampau kikir Bramanti. Kenapa kau tidak dapat merelakan secuwil tanah itu?”

Leave a Reply