Tanah Warisan 259

Jumat, 03-05-2002
 “Bukan itu soalnya ibu. Bukan secuwil tanah itu yang penting bagiku. Tetapi seluruh isi Kademangan mengenal siapa Panggiring.”
Ki Tambi menundukkan kepalanya. Ia adalah sumber berita itu. Kalau ia tidak menyebutnya, mungkin keadaan akan berbeda.

“Itu karena salahku Panggiring.”

“Paman tidak bersalah,” jawab Panggiring. “Baiklah, aku pergi. Selamat tinggal ibu, selamat tinggal Bramanti, paman Tambi dan semuanya. Salamku buat kawan-kawan sepermainan di masa kecil, buat semua orang di Candisari. Mungkin aku sudah tidak akan dapat melihat Candisari. Mungkin aku sudah tidak akan dapat melihatnya lagi,” Panggiring berhenti sejenak. Ditatapnya Kademangan Candisari dalam keremangan malam. Tidak ada yang dapat dilihatnya dengan jelas. Selain bayangan hitam seperti puntuk-puntuk yang bertebaran, “Selamat tinggal Candisari.”

Tangis Nyai Pruwit meledak-ledak tanpa tertahankan. Dan disela-sela suara tangis itu terdengar suara Ki Tambi. “Kau sudah menjadi gila Bramanti. Kau sudah gila. Kenapa kalian tidak melakukan perang tanding saja? Ayo siapa yang menang, ia adalah orang yang berhak menentukan siapakah yang akan tinggal di rumah itu. Apakah ia seorang penjahat apakah ia anak seorang penjahat. Ayo sebaiknya kalian berkelahi. Bukankah kalian adalah anak-anak jantan?”

Segera terdengar suara Panggiring berat, “Tidak paman. Aku tidak ingin menyelesaikan masalah di antara keluarga dengan cara itu.”

Tetapi Ki Tambi seakan-akan tidak mendengarnya, “Ayo Bramanti. Kau mempunyai pe dang pendek itu. Kau sudah berhasil membunuh Sapu Angin, orang itu yang paling ditakuti oleh siapapun di Kademangan ini dan sekitarnya. Sedang Panggiring adalah seorang perampok yang mengerikan di pesisir Utara. Ayo, kalau kau tidak membawa senjata pakai pedangku.”

Tetapi Panggiring segera menyahut, “Tidak ada gunanya.”

“Kenapa kau diam saja Bramanti. Cepat, tarik pedangmu.”

Wajah Bramanti menjadi tegang. Tetapi tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya. Namun yang terdengar masih suara Panggiring, “Paman, tanganku telah menjadi terlampau kotor. Di saat-saat terakhir aku merasa, bahwa tanganku sudah tidak akan menjadi semakin kotor lagi. Berapa puluh orang telah mati oleh tangan ini. Karena itu aku tidak akan menambahnya lagi.”

“Kau terlampau sombong,” geram Bramanti. “Apakah kau kira bahwa kau dapat membunuh aku.”

“Bukan, bukan itu maksudku,” cepat-cepat Panggiring menyahut, “Aku tidak bermaksud demikian. Maaf Bramanti. Maksudku, aku sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk berkelahi.”

Leave a Reply