Tanah Warisan 260
Sabtu, 04-05-2002
“Apakah lukamu disaat terakhir telah membuatmu cacat. Membuat tanganmu lumpuh, atau kakimu atau apapun padamu Panggiring?” teriak Ki Tambi.
“Tidak paman. Ternyata hatikulah yang lumpuh selama ini. Justru baru disaat terakhir hati itu mampu bekerja keras.”
“Pengecut,” teriak Ki Tambi.
Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Ki Tambi tidak dapat mengekang perasaannya yang melonjak-lonjak lagi. Orang tua itu menjadi sangat kecewa melihat dua orang saudara yang tidak dapat berada di dalam satu lingkungan keluarga yang kecil.
“Sudahlah,” berkata Panggiring kemudian, “Malam telah larut. Aku akan pergi.” Kemudian kepada ibunya, “Jangan menangis lagi ibu. Semuanya sudah selesai. Ibu akan dapat hidup tentram seperti pada masa saat aku belum mengguncang ketentraman itu. Maafkan aku ibu.”
“Panggiring,” isak ibunya, “Kenapa kau harus pergi?”
“Tidak apa-apa ibu.”
“Seharusnya kau tetap tinggal bersamaku.”
Yang terdengar kemudian adalah suara Bramanti, “Kalau Panggiring tetap tinggal bersama ibu, lebih baik akulah yang pergi.”
“Bramanti,” teriak ibunya, “Tidak ngger. Kau tidak boleh pergi. Kau juga tidak.”
Sejenak setiap orang seakan-akan menjadi terbungkam. Yang terdengar hanya isak tangis Nyai Pruwita dan derik ilalang di pematang.
Panggiring kemudian mengangkat kakinya dan melangkah sambil berkata, “ Selamat tinggal semuanya. Akulah sumber persoalan. Kalau aku pergi, semuanya akan selesai.”
Panggiring tidak menunggu jawaban siapapun. Perlahan-lahan ia melangkah pergi. Sementara itu terdengar suara Nyai Pruwita memanggil, “Panggiring, Panggiring.”
Tetapi Panggiring tidak berpaling. Bahkan langkahnya menjadi semakin cepat, sedang kepalanya pun menunduk dalam-dalam. Suara ibunya terdengar setiap kali seperti goresan sembilu di dinding jantung. Tetapi ditahankannya hatinya. Dan ia benar-benar tidak berpaling, meskipun terasa pelupuk matanya menjadi hangat.
Beberapa orang yang berdiri di sepanjang pematang tiba-tiba telah menyibak. Mereka berloncatan turun ke sawah ketika Panggiring lewat di pematang itu juga.
Beberapa orang saling berpandangan. Dan beberapa orang berkata di dalam hatinya, “Apakah Panggiring ini adalah Panggiring yang dulu?”
Tetapi Panggiring berjalan terus. Suara panggilan ibunya terdengar semakin jauh.
Ketika Panggiring beranjak dari tempatnya, dan ketika ibunya berteriak memanggilnya, ia berkata, “Biarlah anak itu pergi ibu. Sudah menjadi keputusanku. Panggiring tidak boleh berada di Kademangan ini.”
“Kau terlampau kejam Bramanti,” desis ibunya.
“Bukan aku, tetapi adalah salah Panggiring sendiri. Ia telah melumuri tangannya dengan darah dan noda. Tidak ada tempat di halaman rumahku baginya. Halaman yang kotor itu telah aku bersihkan. Demikian juga nama keluargaku.”
“Tetapi ia berhak berbuat demikian.”
“Tidak,” suara Panggiring pun menjadi semakin keras. “Terserah kepadaku, apakah aku memberikan ijin itu kepadanya atau tidak. Tanah itu tinggal satu-satunya peninggalan ayahku yang masih dapat aku raba, karena semuanya telah lenyap dilingkaran judi. Dan tanah itu sekarang akan dikotori dengan darah yang meleleh dari tangan Panggiring.
“Bramanti,” potong ibunya.
Tetapi Bramanti berkata terus, “Aku tidak akan merelakannya. Setiap sentuhan pada selembar daun, maka daun itu akan aku gugurkan. Dan setiap bekas kakinya akan aku cukil dan aku lembar kegerojogan.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 156 Views





Leave a Reply