Tanah Warisan 261
Minggu, 05-05-2002
“Terlalu, terlalu kau Bramanti. Kau benar-benar kejam. Kejam sekali. Sebenarnya kau tidak dapat berbuat begitu.”
“Kenapa? Tanah itu adalah tanah peninggalan ayahku. Kenapa?”
“Tidak, tidak. Kau keliru.”
Wajah Bramanti menjadi tegang.
“Baiklah Bramanti. Kini kau sudah dewasa. Kau sudah cukup mempunyai pertimbangan atas baik dan buruk. Ketahuilah bahwa tanah itu sama sekali bukan tanah ayahmu seperti yang kau sangka sampai sekarang. Meskipun hak atas tanah itu kemudian berada di tangan ayahmu, tetapi tanah itu adalah tanah Demang Candisari yang dahulu. Ayah Panggiring. Sepeninggalan ayahnya, datanglah ayahmu. Pruwita. Laki-laki yang hanya pandai merayu. Tetapi salahku. Salahku. Salahku,” Nyai Pruwita terjatuh di atas lututnya. Cepat Ki Tambi memeganginya. Tetapi tubuhnya sendiri telah menjadi gemetar dibakar oleh perasaannya. Tanpa dapat menahan perasaan lagi, sambil memegangi pundak Nyai Pruwita, Ki Tambi berkata lantang, “Terkutuklah laki-laki yang bernama Pruwita itu. Ia benar-benar hanya pandai merayu. Tetapi ibumu yang ditinggal mati muda itu pun tidak teguh iman, sehingga akhirnya jatuhlah ia ke dalam dekapan setan itu. Kekayaan yang ditinggalkan oleh suaminya, Demang Candisari, ayah Panggiring, sedikit demi sedikit dilemparkannya kelingkaran judi, setelah ia berhasil merampas hak itu dan memindahkannya kepada dirinya sendiri,” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Alangkah bodohnya ibumu. Dan alangkah gilanya Pruwita itu,” suara Ki Tambi menjadi gemetar,
“Bramanti, kalau kau tidak percaya, bertanyalah kepada orang tua-tua. Bertanya kepada setiap orang Candisari sebayaku. Bahkan yang ikut membunuh ayahmu sekarang masih ada yang tetap hidup. Bertanyalah kepada mereka, apa yang dilakukan ayahmu setelah menghabiskan segala harta milik ibumu yang lemah iman karena rayuan seorang laki-laki iblis. Dan apakah yang pernah dilakukannya atas Panggiring, anak tirinya itu? Dengar Bramanti, dengar. Senja itu, kau terjatuh dari tangga. Kau masih kecil. Namun barangkali kau masih ingat. Dengan penuh kasih seorang kakak kau didukung oleh Panggiring masuk kedalam rumah. Tetapi karena terkejut dan benturan pada kepalamu, maka kau pingsan. Ibumulah yang menyuruh Panggiring menyusul ayahmu. Tetapi apa yang terjadi, Panggiring dipukuli habis-habisan. Diusirnya ia seperti anjing. Ternyata ayahmu yang sedang asyik berjudi itu sama sekali tidak mau terganggu, seandainya kau mati sama sekali. Dan aku tahu pasti,” suara Ki Tambi merendah. “Saat itulah Panggiring meninggalkan Kademangan ini.”
Nafas Ki Tambi menjadi terengah-engah. Tetapi dadanya serasa menjadi lapang. Semua gejolak di dalam dadanya telah dimuntahkannya. Dan bahkan kemudian ia berkata, “Nah, kau sudah mendengar semuanya. Sekarang, terserah kepadamu. Apa yang kau lakukan atasku. Kalau kau menganggap aku telah memfitnah nama ayahmu, kau dapat menuntut. Bahkan membunuh aku sekali.”
Dan pada saat itulah, tubuh Nyai Pruwita menjadi lemah. Kini ia tidak dapat lagi bertahan pada lututnya. Perlahan-lahan ia terkulai jatuh di tangan Ki Tambi. Nyai Pruwita menjadi pingsan pula karenanya.
Sementara itu Bramanti berdiri dengan tubuh gemetar. Giginya terkatub rapat-rapat. Namun dadanya serasa dilanda oleh angin pusaran yang tiada tara dahsyatnya. Gelombang perasaannya menjadi semakin gemuruh seperti perut gunung berapi yang hampir meledak.
Selangkah ia maju mendekati ibunya. Perlahan-lahan berlutut dan meraba tangan perempuan tua itu. Sejenak anak muda itu merenung. Namun tiba-tiba ia tegak berdiri. Ditatapnya pematang yang tadi dilalui oleh Panggiring. Dengan serta merta ia pun meloncat berdiri dan melangkah menyusuri pematang itu dengan tergesa-gesa. (Bersambung)-m
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 145 Views





Leave a Reply