Tanah Warisan 262
Senin, 06-05-2002
“Bramanti, Bramanti,” teriak Ki Tambi. Tetapi Bramanti tidak menyahut. “He, apakah kau sudah gila he?”
Bramanti melangkah terus. Semakin cepat, semakin cepat.
Dan suara Ki Tambi itu menggelepar seperti keluhan angin dipesisir. Hilang tanpa bekas. Sedang Bramanti sama sekali tidak berpaling. Ia berjalan terus di atas pematang menyusul Panggiring. Tidak seorang pun yang mengerti apakah maksudnya.
Orang-orang yang berada di pematang segera menyibak pula ketika Bramanti lewat, seperti mereka telah memberikan jalan kepada Panggiring.
Namun kini mereka menjadi semakin ingin tahu, apakah yang akan terjadi. Karena itu, maka setelah sejenak mereka saling berpandangan, maka satu demi satu mereka pun segera menyusul Bramanti pula.
Ki Tambi melihat semua itu dengan dada yang bergelora. Seperti orang-orang lain ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Bramanti. Tetapi sudah terang, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan Nyai Pruwita begitu saja di pematang sawah.
Dengan demikian, maka betapa gelora melanda dinding dadanya, namun Ki Tambi terpaksa menunggu sehingga Nyai Pruwita yang pingsan itu menjadi sadar.
Ketika perempuan itu mulai membuka matanya, setelah Ki Tambi menyeka keningnya dengan sejuknya air embun di daun padi, maka dengan sareh ia berkata, “Sudahlah Nyai. Jangan kau risaukan lagi persoalan anak-anakmu. Mereka sudah dewasa, dan mereka seharusnya sudah dapat melihat baik dan buruk, salah dan benar.”
“Tetapi aku tidak pernah mengajarkannya Ki Tambi,” jawab Nyai Pruwita terputus-putus. “Aku tidak pernah menunjukkan kepada anak-anakku, apakah yang baik dan apakah yang buruk. Dan itu adalah pertanda betapa salahnya tingkah lakuku semasa mudaku.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri, desis Ki Tambi kemudian, “Tetapi, marilah kita kembali. Kau perlu beristirahat. Kita akan menjadi semakin kedinginan disini.”
Nyai Pruwita mengangguk, “Tetapi tubuhku serasa sudah tidak bertulang lagi.”
“Marilah aku tolong.”
Kemudian dengan susah payah Ki Tambi menolong Nyai Pruwita berjalan menyusuri pematang.
Sementara itu langkah Bramanti menjadi semakin cepat. Sejenak ia ragu-ragu ketika ia sampai ke jalan yang membujur di tengah-tengah persawahan. Namun sejenak kemudian tanpa diminta salah seorang yang melihatnya ragu-ragu berkata kepadanya, “Kebetulan aku berada disini ketika ia meloncati parit ini. Ia pergi ke Timur.”
Bramanti memandangi orang itu sejenak. Mula-mula ia menjadi heran, kenapa orang itu tanpa dimintanya telah memberitahukan kepada Panggiring pergi.
“Apakah mereka memang menghendaki sesuatu akan terjadi? Ataukah mereka telah terlampau lama tidak melihat kekerasan terjadi di Kademangan ini? Atau maksud-maksud yang lain?”
Tetapi Bramanti tidak mau memikirkannya lagi. Ia pun segera melangkah ke arah Timur, menyusul langkah Panggiring.
Dalam pada itu, orang-orang Candisari yang mengikutinya, beriring-iringan pergi ke arah yang sama. Dengan wajah-wajah yang tegang mereka berjalan semakin cepat pula, mengikuti langkah Bramanti.
Tetapi sejenak langkah-langkah mereka tertegun. Langkah orang-orang Candisari, dan langkah Bramanti yang berada agak jauh dihadapan iring-iringan itu.
Lamat-lamat mereka mendengar tengara, suara kentongan dikejauhan. Nada kentongan itulah yang membuat dada mereka berdebar-debar. Titir. Dan mereka menjadi semakin yakin, ketika suara titir itu segera menjalar keseluruh padesaan di Kademangan Candisari.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 149 Views





Leave a Reply