Tanah Warisan 263
Selasa, 07-05-2002
“He, kau dengar suara titir itu?” bertanya salah seorang pengawal kepada kawannya.
“Ya, titir.”
“Dan kau tahu artinya?”
“Bahaya yang paling mengancam Kademangan.”
Tiba-tiba di antara mereka Temunggul menjadi gemetar. Terngiang kata-kata Ki Demang di Kademangan pagi tadi. Jika demikian maka suara titir itu adalah pertanda datangnya bahaya dari padepokan Panembahan Sekar Jagat.
Dengan suara gemetar ia berkata kepada Ki Jagabaya yang berada di antara mereka pula, “Kita harus segera kembali.”
Wajah Ki Jagabaya pun menjadi tegang, “Ya, tetapi bagaimana dengan Bramanti?”
“Ia sedang mengurusi keluarganya.”
“Seharusnya ia mendengar suara titir itu.”
Temunggul mengerutkan keningnya. Katanya, “Panggiring sudah ada disini, dan kini kita mendengar kentongan titir. Apakah ada hubungannya antara kegagalan Panggiring membujuk keluarganya untuk mendapatkan tempat tinggal di Kademangan ini dengan suara titir itu?”
“Maksudmu, bahwa Panggiring itu pulalah yang kini datang ke Kademangan dengan nama Panembahan Sekar Jagat?”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian katanya, “Persetan. Tetapi kita harus berada di Kademangan. Mungkin gardu-gardu yang hanya ditunggui oleh beberapa orang itu kini telah disapu bersih, justru sebagian terbesar anak-anak muda yang tidak sedang bertugas lagi berada disini.”
“Ya, kau benar,” sahut Ki Jagabaya.
Namun sebelum mereka mengambil keputusan, mereka melihat sesosok bayangan berlari-lari. Bramanti.
“Bagaimana dengan suara titir itu?” bertanya Temunggul ketika Bramanti telah berada di lingkungan anak-anak muda yang kebingungan.
“Kita pergi ke Kademangan. Aku urungkan niatku untuk menemui kakang Panggiring. Kita selesaikan dulu persoalan kita dengan Panembahan Sekar Jagat.”
“Justru setelah usaha Panggiring gagal.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Siapapun yang bernama Panembahan Sekar Jagat itu, kita harus menyelesaikan.”
Bramanti tidak menunggu jawaban lagi. Segera ia berlari-lari menuju ke Kademangan. Menurut perhitungannya Panembahan Sekar Jagat pasti akan langsung menuju ke tempat itu, karena ia tahu bahwa pusat penjagaan para pengawal berada di Kademangan itu.
Para pengawal, anak-anak muda dan bahkan orang tua-tua pun segera mengikutinya. Mereka sadar, bahwa apabila benar Panembahan Sekar Jagat datang, maka Kademangan Candisari akan berada dalam kesulitan. Menurut beberapa orang, Panembahan Sekar Jagat adalah seorang yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun juga. Bahkan satu dua orang telah menambah keterangan, bahwa Panembahan Sekar Jagat mempunyai aji Pancasona. Ia tidak akan dapat mati, selama ia masih menyentuh tanah.
Sambil berlari-lari Bramanti masih sempat berteriak, “Temunggul, anak-anak muda seluruh Kademangan harus bersiap. Mereka harus membawa senjata mereka. Yang sempat membuat diharap membawa obor-obor dari jenis apapun juga.
Tidak ada yang menjawab. Namun dengus nafas mereka, seakan-akan dengus nafas seekor harimau yang terluka.
Satu dua orang sempat singgah ke rumah masing-masing untuk mengambil obor minyak jarak, atau obor kecil dari biji-biji jarak kepyar, atau obor belarak.
Dalam pada itu, Ki Tambi yang sedang memapah Nyai Pruwita pun mendengar suara titir itu pula, sehingga dadanya menjadi berdebar-debar.
“Titir itu?” bertanya Nyai Pruwita.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 184 Views





Leave a Reply