Tanah Warisan 264
Rabu, 08-05-2002
Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Itu adalah suatu sikap hati-hati. Mungkin tidak ada apa-apa, namun mungkin anak-anak itu melihat sesuatu yang mereka curigai.”
“Bukankah kentong titir pertanda ada Rajapati.”
“Maksud Nyai, pembunuhan?”
Perempuan tua itu mengangguk.
“Ya. Tetapi kali ini kita disini telah mempunyai semacam perjanjian. Kentong titir mempunyai arti tersendiri. Bahaya yang besar sedang mengancam Candisari.”
Nyai Pruwita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa tubuhnya memang agak gemetar.
“Kita pergi kemana?” bertanya perempuan itu kemudian.
“Aku ingin mengantarkan Nyai dahulu, kemudian aku akan pergi ke Kademangan, untuk melihat, apakah yang datang itu benar-benar yang kita tunggu selama ini.”
“Siapa?”
“Panembahan Sekar Jagat.”
“Panembahan Sekar Jagat?” perempuan itu menjadi tegang, “Dimana Bramanti? Ia adalah salah seorang yang telah melawan Panembahan Sekar Jagat atau utusannya secara terbuka. Bramantilah yang akan mendapat perhatian khusus dari Panembahan Sekar Jagat itu. Ia harus bersembunyi. Ia harus bersembunyi.”
“Ia akan dapat menjaga dirinya Nyai. Anakmu adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ilmunya telah meyakinkan seluruh isi Kademangan, bahwa hanya anakmulah yang akan dapat melawan Panembahan Sekar Jagat.”
“Tetapi tidak seorang pun yang dapat meremehkan, siapakah yang lebih unggul di antara mereka berdua.”
“Seluruh Kademangan meletakkan harapan kepada Bramanti.”
“Aku tidak peduli. Kademangan ini telah merampas kebahagiaanku. Kademangan ini pulalah yang telah menolak kehadiran Panggiring, dan sekarang Kademangan ini akan merampas Bramanti. Tidak. Tidak. Aku tidak mau kehilangan semuanya. Suamiku, Panggiring dan sekarang Bramanti.”
Kita Tambi menjadi bingung menghadapi Nyai Pruwita yang kehilangan akal. Perempuan itu agaknya memang sudah tidak dapat diajak berbicara lagi.
“Baiklah Nyai,” berkata Ki Tambi kemudian, “Aku akan mencari Bramanti. Tetapi sebaiknya Nyai pulang dahulu. Suara titir itu pun masih belum dapat kita pastikan artinya.”
Nyai Pruwita mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berbisik, “Apakah kentong itu ditujukan kepada Panggiring?”
“Tidak. Tentu tidak. Panggiring bukan seorang pengecut. Ia adalah laki-laki jantan. kalau ia berkata pergi, maka ia pun akan pergi. Aku kira suara itu tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Panggiring.” (Bersambung)-m
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 166 Views





Leave a Reply