Tanah Warisan 265
Jumat, 10-05-2002
Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun lambat, namun mereka berdua akhirnya telah memasuki pedesaan. Betapa gelisahnya Ki Tambi namun ia masih mencoba menahan diri. Dengan sareh ia memapah Nyai Pruwita naik ke pendapa, kemudian membawanya masuk ke rumahnya. Perlahan-lahan dilayaninya perempuan itu duduk di amben bambu di ruang tengah.
“Nyai,” berkata Ki Tambi, “Aku langsung mita diri. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa di pedesaan ini.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepa-lanya. Katanya, “Ki Tambi. Bawa anakku pulang. Bawa Bramanti kembali kepadaku. Aku menyesali sekali bahwa aku telah mengatakan keadaannya yang sebenarnya.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun telah mengatakannya pula. Jauh lebih banyak dari yang dikatakan oleh Nyai Pruwita.
Tetapi Ki Tambi tidak mempunyai banyak waktu. Sambil melangkah ia menjawab, “Aku akan membawa Bramanti pulang. Tunggulah dengan tenang disini Nyai.”
Sejenak kemudian Ki Tambi telah melangkah tlundak pintu. Setelah menutup pintu itu kembali, maka ia pun langsung menghambur ke halaman dan berlari-lari ke Kademangan.
Belum lagi ia melampaui gardu pertama, ia telah melihat kesibukan yang luar biasa. Anak-anak muda di gardu itu telah berdiri berderet-deret di pinggir jalan dengan senjata telanjang.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya Ki Tambi.
“Panembahan Sekar Jagat telah datang.”
“Panembahan Sekar Jagat sendiri?”
“Kamai belum melihatnya sendiri.”
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata, “Panembahan Sekar Jagat hanya satu. Seandainya Panembahan Sekar Jagat benar-benar orang yang tidak terkalahkan, namun anak buahnya adalah orang-orang yang berdaging lunak seperti kalian. Ujung-ujung senjata kalian tidak akan mengulang untuk kedua kalinya. Sedang Panembahan Sekar Jagat sendiri, serahkan kepada Bramanti.”
Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun mereka sudah bukan anak-anak muda Candisari beberapa saat yang lalu. Kini mereka bertekad untuk mempertahankan kampung halaman mereka sampai kemampuan yang penghabisan.
“Inilah saatnya,” berkata Ki Tambi, “Kalian tidak dapat lagi tidur bermalas-malasan. Atau memanjakan diri kalian sendiri. Kalian harus berhadapan dengan kenyataan, bahwa pada suatu saat kalian harus bersikap terhadap tanah ini.
Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Hati-hatilah,” pesan Ki Tambi yang kemudian segera melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan gardu itu.
Semakin dekat dengan Kademangan, Ki Tambi merasakan, bahwa suasana memang menjadi semakin panas. Tidak hanya anak-anak muda, tetapi hampir setiap laki-laki telah keluar dari rumahnya dengan senjata di tangan.
Ketika Ki Tambi sampai ketikungan terakhir, maka langkahnya terhenti. Ia melihat sekelompok anak-anak muda berdiri disebelah menyebelah jalan. Beberapa orang di antara mereka berada di dalam pagar batu.
“He, kenapa kalian berada disini?”
“Di depan itu adalah laskar Panembahan Sekar Jagat,” jawab salah seorang dari mereka.
“He?” Ki Tambi terkejut, “Mereka sudah berada di Kademangan?”
“Ya. Sebagian dari mereka berada di halaman. Sebagian yang lain berada di luar.”
“Apakah kau melihat Bramanti?”
“Bramanti berada di halaman itu pula.”
“Jadi, maksudmu Bramanti tidak mengadakan perlawanan?”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 147 Views





Leave a Reply