Tanah Warisan 266

Sabtu, 11-05-2002
 “Bukan begitu. Mereka sedang berbicara. Panembahan Sekar Jagat mempunyai beberapa tuntutan.”
“Apakah Bramanti hanya seorang diri?”

“Tidak. Temunggul, Ki Jagabaya dan hampir semua pengawal berada disana. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dan kami pun hanya menunggu perintah. Kami berada di luar kepungan laskar Panembahan Sekar Jagat. Tugas kami adalah memecahkan kepungan itu dari luar.

“Apakah hanya kalian saja yang berada disini?”

“Ya. Tetapi disetiap jalan yang menuju ke Kademangan, telah dipersiapkan sekelompok pasukan. Kami akan menyerang dari segala arah apabila pertempuran terjadi. Sedang di dalam kepungan terdapat para pengawal yang dipimpin oleh Bramanti.

Dada Ki Tambi menjadi berdebar-debar. Ia ingin masuk ke halaman Kademangan supaya ia dapat melihat perkembangan keadaan. Tetapi apakah ia dapat menerobos kepungan yang dilakukan oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat?

Karena itu maka ia pun bertanya pula, “Apakah kepungan itu terlampau rapat?”

“Kami tidak tahu pasti. Mungkin kepungan itu tidak tertembus sama sekali.”

Tetapi Ki Tambi bukan orang yang mudah berputus asa. Maka katanya, “Aku akan mencari celah-celah yang dapat aku susupi. Aku tidak yakin bahwa lingkaran kepungan itu demikian rapatnya, sampai kerumpun-rumpun bambu dikebun belakang, atau sampai ke pinggir parit dibawah pohon cangkring.”

Anak-anak muda itu tidak menyahut. Tetapi kepala mereka terangguk-angguk.

Dengan hati-hati Ki Tambi pun melangkah maju. Tetapi ia kini tidak melalui lorong yang langsung menuju ke regol Kademangan. Dicarinya jalan lewat jalur-jalur setapak dikebun-kebun disekitar Kademangan menuju ke halaman belakang yang rimbun.

Ki Tambi itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Panembahan Sekar Jagat mempunyai kecakapan khusus sehingga anak-anak muda Candisari menganggap bahwa halaman Kademangan memang sudah terkepung rapat.

“Bahkan orang-orang di halaman itu pun pasti menyangka, bahwa kepungan ini tidak terputus,” katanya di dalam hati. “Aku kira mereka pasti sudah mengadakan gelar sandi, berkeliaran disekitar Kademangan sehingga membuat kesan seolah-olah laskar mereka cukp banyak dan berhasil mengepung Kademangan.”

Namun Ki Tambi yang pernah melakukan petualangan sampai ke pesisir Utara itu masih mampu mencari celah-celah yang dapat dilaluinya.

Sambil merunduk-runduk dan menahan pernafasannya, Ki Tambi menjadi semakin dekat. Diseberangi sebuah parit kecil, kemudian berlindung dibelakang gelapnya bayangan daun cangkring yang rimbun.

Perlahan-lahan ia maju. Setapak demi setapak. Sehingga akhirnya ia sampai ke dinding belakang Kademangan.

“Hem, jalan ini terbuka,” desisnya. Tetapi dinding bagian belakang ini agak tinggi.

Ki Tambi itu pun kemudian mencoba untuk memanjat. Dengan serta merta ia pun segera meloncat masuk.

Tetapi begitu kakinya menjejak tanah dua ujung tombak telah melekat di dadanya.

“He, lihat. Aku Tambi,” desisnya.

“Oh,” mata tombak itu pun kemudian merunduk,” Ki Tambi. Maaf, aku tidak dapat segera mengenal.”

“Bagus. Kalian menjadi kian tangkas,” desis Ki Tambi, kemudian, “Dimana Bramanti?”

“Di halaman.”

“Apakah Panembahan Sekar Jagat berada di halaman pula?” (Bersambung)-m

Leave a Reply