Tanah Warisan 267
Minggu, 12-05-2002
“Ya,” jawab salah seorang dari keduanya.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian orang-orang lain yang berada disekitarnya. Ternyata bahwa di kebun belakang Kademangan itu telah penuh dengan para pengawal. Hampir pada setiap batang pohon bersandar anak-anak muda yang bersenjata telanjang.
“Aku akan menemui Bramanti,” berkata Ki Tambi. “Hati-hatilah. Tetapi tidak begitu banyak orang Panembahan Sekar Jagat yang ada di bagian belakang. Sebagian terbesar dari mereka berada di depan.”
“Justru mereka memusatkan orang-orang mereka untuk masuk dari jurusan ini,” jawab salah seorang pengawal.
Ki Tambi mengerutkan keningnya, “Mungkin. Tetapi aku baru saja menyusup dari jurusan ini. Agaknya mereka telah melakukan suatu gerakan yang dapat membingungkan kita.”
Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sementara Ki Tambi melangkah memutari rumah Kademangan menuju ke halaman depan.
Sejenak mereka tertegun ketika ia melihat seseorang yang duduk di atas punggung kuda putih. Ditangannya tergenggam sebuah trisula bertangkai pendek. Tidak lebih panjang dari lengan tangan orang yang memeganginya.
“Hem, inikah orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?” berkata Ki Tambi di dalam hatinya. Namun Ki Tambi masih tetap berdiam diri. Perlahan-lahan ia bergeser mendekati Ki Jagabaya yang berdiri tegang. Di sampingnya Temunggul mematung dengan wajah yang merah padam.
Bramanti berdiri agak kemuka. Beberapa langkah dihadapan orang yang duduk di atas kuda putih.
“Menurut pengamatanku, orang itu sama sekali bukan Panggiring,” desis Ki Tambi di dalam hati. “Sekarang mereka akan dapat menarik kesimpulan bahwa dugaan anak-anak itu keliru.”
“Bagaimana?” terdengar suara Panembahan itu menggelegar, “Aku sudah berlaku adil.”
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian ia berbisik kepada Temunggul, “Apa yang ditawarkannya?”
“Ia akan mengambil Bramanti, tanpa mengusik orang lain, karena yang telah membunuh Sapu Angin adalah Bramanti.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar orang yang duduk di atas kuda putih itu berkata, “He, kau orang baru, apakah yang kau tanyakan?”
“Tuntutanmu,” jawab Ki Tambi tanpa mengenal takut.
Semua orang berpaling kepadanya. Bramanti pun berpaling pula. Sementara Ki Tambi melangkah maju, “Apakah dasarmu, bahwa kau hanya sekadar ingin mengambil Bramanti? Apakah kau anggap dengan demikian persoalan akan selesai? Seandainya demikian, kami bukan tikus-tikus yang paling bodoh,” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah kau yang bernama Sekar Jagat?”
Orang itu tidak segera menyahut. Dipandanginya orang tua yang dengan berani telah mendekatinya.
“Siapa kau?”
“Akulah yang bernama Ki Tambi.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau terlampau sombong orang tua. Apakah kau sangka namamu dapat mengejutkan aku?”
“Tidak. Aku tidak ingin mengejutkan kau.”
“Terima kasih. Kau memang baik hati,” jawab Sekar Jagat sambil tersenyum. “Aku juga ingin memperkenalkan diriku. Namaku sudah kau sebut. Dan kini aku mengharap bahwa permohonanku kepada rakyat Candisari akan dikabulkan. Hanya seorang diantara kalian. Itu pun yang telah nyata bersalah.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 163 Views





Leave a Reply