Tanah Warisan 268

Senin, 13-05-2002
 Ki Tambi tidak segera menjawab. Dipandanginya Bramanti yang berdiri tegak seperti patung.
Namun tiba-tiba Ki Tambi berkata lantang, “Itu omong kosong. Tidak ada orang yang pernah bersalah terhadap kalian. Kalianlah yang bersalah terhadap kami,” kemudian ia berpaling kepada Bramanti. “Apakah jawabanmu?”

“Terserah kepada rakyat Candisari,” desis Bramanti, “Kalau kita mempunyai harga diri, maka kita akan menghancurkan pasukan Sekar Jagat.”

Sebelum Ki Tambi menyahut, Ki Jagabaya, melangkah maju pula, “Aku sudah menggenggam senjata.”

“Nah, kau dengar Sekar Jagat,” teriak Ki Tambi yang perasaannya memang sedang melonjak-lonjak tidak karuan, “Kami juga bersenjata seperti kalian. Apakah kau tidak melihat? Kami bukan kambing perahan yang dapat kau perlakukan sewenang-wenang.”

Panembahan Sekar Jagat mengerutkan keningnya, kemudian, “Tetapi aku sudah mendapat kekuasaan untuk melakukannya dari pemimpin tertinggi kalian, Ki Demang Candisari.”

“Omong kosong.”

“Bertanyalah kepadanya. Ia ada bersama kami.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia maju, ketika ia melihat seseorang muncul dari belakang beberapa pengawal terpercaya Panembahan Sekar Jagat.

“Jadi kaukah itu Ki Demang?” teriak Temunggul.

Ki Demang yang kemudian berdiri disamping Panembahan Sekar Jagat menganggukkan kepalanya, “Aku tidak akan berpura-pura lagi. Sebenarnyalah aku telah meletakkan perlindungan wilayah ini dari keganasan para penjahat di bawah kaki Panembahan Sekar Jagat. Karena itu kalian jangan berbuat bodoh. Kalian harus mengorbankan anak Pruwita ini. Anak seorang pejudi, pemeras dan seorang penjahat yang licik tidak ada taranya.”

“Cukup,” teriak Temunggul dan Bramanti hampir berbareng. Sementara Temunggul berkata terus, “Jadi inilah penjelasan dari sikapmu itu Ki Demang. Sehingga kau telah membujuk aku untuk melakukan pembunuhan atas Bramanti?”

Ki Demang tidak ingkar. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Itulah. Nah, sekarang pertimbangkan.”

“Persetan,” Ki Tambilah yang berteriak. “Kami akan bertempur. Kami sudah siap dari ujung sampai ke ujung Kademangan. Kalian akan kami tumpas seperti menumpas tikus disawah.”

Tetapi Panembahan Sekar Jagat justru tertawa sambil berkata, “Kau memang orang tua yang sombong. Tetapi baiklah aku jelaskan. Kademangan ini telah terkepung. Kalau kalian tidak menyerahkan Bramanti, maka Kademangan ini akan menjadi karang abang.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Kau tidak dapat mengelabuhi orang tua-tua Sekar Jagat. Mungkin kau dapat menakut-nakuti anak-anak. Tetapi aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa orang-orangmu tidak lebih dari sebaris laskar yang kelaparan disekitar halaman Kademangan ini. Itupun tidak melingkar rapat. Sedang diluar kepungan ini anak-anak muda telah siap untuk menghancurkan kalian. Nah, apakah kau masih akan menyombongkan dirimu dan pasukanmu?”

Panembahan Sekar Jagat mengerutkan keningnya. Dan ia masih mendengar Ki Tambi berkata, “Kemudian, seandainya kau ingin membakar Kademangan ini, kami tidak akan berkeberatan. Maksudku rumah Demang yang telah menjual Kademangannya. Bakarlah. Jadikanlah karang abang. Kami akan berterima kasih.”

Ki Demang mengumpat tidak habis-habisnya sedang Panembahan Sekar Jagat bertanya dalam nada yang berat, “Itukah permintaanmu? Permintaan kalian?”
(Bersambung).

Leave a Reply