Tanah Warisan 269
Selasa, 14-05-2002
“Persetan,” Ki Jagabaya yang menjawab, “Ayo, lakukanlah.”
Panembahan Sekar Jagat merenung sejenak. Sekali ia berpaling dan beberapa orangnya melangkah maju.
Bramanti masih berdiri dengan dada berdebar-debar. Ia menyadari, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang cukup buas, sehingga mereka akan dapat melakukan apa saja. Perintah Sekar Jagat bagi mereka adalah keharusan sampai saat ajalnya. Karena itu, untuk menghindari korban yang mengerikan akan berjatuhan, Bramanti berkata lantang, “Panembahan Sekar Jagat. Kau jangan mencoba menakut-nakuti rakyat Candisari sekarang. Mereka bukan lagi pengecut seperti beberapa saat yang lampau. Namun seandainya kau ingin berbuat jantan, dan untuk menghindari korban yang tidak perlu, marilah kita berbuat seperti laki-laki.”
Suara Bramanti itu menggelegar memenuhi setiap dada. Bahkan Panembahan Sekar Jagatpun menjadi termangu-mangu karenanya.
“Marilah kita bertaruh,” berkata Bramanti.
“Apakah yang akan kita pertaruhkan anak penjudi,” sahut Sekar Jagat, bahkan ia sempat menambah, “Bukankah darah ayahmu menurun juga kepadamu.”
“Diam,” teriak Bramanti, “Aku ingin mempertaruhkan nyawa. Kita berperang tanding. Kalau kau menang, kau dapat membunuh aku dan mencincang tubuhku. Tetapi kalau kau mati, maka anak buahmu akan menjadi tawanan kami, sampai saatnya kami menyerahkan mereka kepada kekuasaan tertinggi. Mataram.”
“Omong kosong dengan Mataram yang belum dapat berdiri tegak,” sahut Panembahan Sekar Jagat. “Tetapi tawaranmu sangat menarik.”
“Nah, marilah. Kita bertempur di halaman ini.”
Panembahan Sekar Jagat termenung sejenak. Sehingga sejenak halaman itu menjadi sepi. Tetapi sepi yang tegang.
Tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun Panembahan Sekar Jagat turun dari kudanya. Dijinjingnya trisulanya sambil melangkah beberapa langkah maju. Dilepaskannya saja kudanya sehingga salah seorang anak buahnya dengan tergesa-gesa menangkap kendalinya.
“Kau adalah anak muda yang jantan Bramanti,” berkata Panembahan Sekar Jagat. “Nah, kalau begitu marilah, aku penuhi permintaanmu.”
Suasana yang tegang itu menjadi semakin tegang. Dengan hampir tidak berkedip mereka memandangi Panembahan Sekar Jagat dan Bramanti berganti-ganti.
Panembahan Sekar Jagat, adalah seorang yang bertubuh kecil pendek terpelihara rapi. Pakaiannya pun adalah pakaian yang baik dan mahal.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 135 Views





Leave a Reply