Tanah Warisan 270

Rabu, 15-05-2002
 Orang-orang di halaman itu tidak dapat melihat wajah itu dengan sempurna. Tetapi mereka menduga bahwa Panembahan Sekar Jagat berumur kira-kira dipertengahan abad.

“Bersiaplah anak muda,” suara Panembahan Sekar Jagat sareh, “Sebaiknya kita segera mulai.

Bramanti mengangkat dadanya. Ia pun maju setapak. Kemudian berkata lantang, “Menepilah. Lihatlah, apakah yang akan terjadi. Kalian sudah mendengar, apa yang akan kami lakukan.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Ia masih berdiri di tempatnya. Bahkan ia pun kemudian melangkah maju mendekati Bramanti sambil berkata, “Hati-hatilah Bramanti.”

Bramanti tidak menjawab. Dipandanginya Ki Tambi sekilas. Orang tua itu baru saja mengumpatinya. Tetapi ini terasa, betapa orang tua itu mencemaskan nasibnya.

Perlahan-lahan Bramanti menganggukkan kepalanya.

“Nah, berilah anak itu petunjuk agar ia tidak mengecewakan,” desis Sekar Jagat.

“Aku tidak perlu memberinya petunjuk apapun. Tidak ada seorang pun yang dapat menyamainya. Sapu Angin itu mati dengan beberapa kejap saja,” jawab Ki Tambi.

Panembahan Sekar Jagat mengerutkan keningnya. Kemudian trisulanya pun merunduk perlahan-lahan. Desisnya, “Minggirlah. Kami memerlukan tempat yang cukup.”

Maka orang-orang yang berada di halaman itu pun segera menyibak. Namun dengan demikian, orang-orang yang berdiri agak jauh menjadi semakin mendekat. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi kemudian dengan kedua orang itu.

Meskipun demikian Temunggul masih sempat berbisik kepada salah seorang pengawal, “Jangan lengah, awasi anak buah Sekar Jagat. Mungkin ada di antara mereka yang akan berbuat curang.”

Pengawal itu pun menganggukkan kepalanya, dan perintah itu segera menjalar dari telinga ke telinga.

Sementara keduanya saling berhadapan, dan masing-masing telah menggenggam senjata masing-masing dengan eratnya, maka sebuah bayangan di ujung Kademangan berjalan dengan kepala tunduk. Langkahnya satu-satu seakan-akan diberati oleh segumpal batu hitam. Namun ia masih tetap berjalan meskipun semakin lambat.

Tiba-tiba bayangan itu berhenti. Sejenak ia berhenti mematung, namun kemudian dipalingkannya wajahnya. Dihisapnya udara malam yang sejuk itu dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mendinginkan hatinya yang sedang menggelepar.

Orang itu, Panggiring, kini berdiri tegak sambil memandangi Kademangan yang akan ditinggalkannya. Usahanya untuk kembali ke kampung halamannya ternyata sama sekali tidak memberikan buah seperti yang diharapkan.

“Aku tidak akan melihatnya lagi,” desisnya. “Tetapi itu adalah salahku.”

Tiba-tiba terbayang sejenak masa kanak-kanak. Bagaimana ia dipukuli oleh ayah Bramanti yang sedang kalah dilingkaran judi, justru pada saat ia memberitahukan bahwa Bramanti sedang dalam keadaan sakit yang gawat. Kemudian ia terusir dari kampung halaman, mengembara tidak tentu tujuan. Setiap orang selalu mengusirnya seperti mengusir burung disawah.

Terkenang olehnya, bagaimana ia hampir kelaparan di pinggir sawah tanpa seorang pun yang mengasihinya. Dan terkenang pula olehnya, bagiamana ia menjadi putus asa, dan kehilangan akal, sehingga tiba-tiba saja ia telah menerkam seorang gadis kecil yang sedang pergi ke sawah, membawa makanan untuk ayah atau kakaknya yang sedang bekerja. Kemudian dirampasnya makanan itu, dibawanya bersembunyi ke dalam gerumbul.
(Bersambung)-m

Leave a Reply