Tanah Warisan 271
Kamis, 16-05-2002
Panggiring menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir saja ia mati tercekik justru karena ia menyuapi mulutnya terlampau banyak. Sedemikian laparnya, sehingga ia ingin menelan sebungkus nasi itu sekaligus.
“Itulah permulaannya,” desisnya.
Dan seterusnya terbayang apa yang terjadi, seperti ia melihatnya sendiri dalam suatu rangkaian peristiwa yang baru saja kemarin terjadi.
Perampasan, pencurian kecil-kecilan dan perampokan terhadap penjual makanan dan minuman.
Terkenang pula olehnya, ketika pada suatu ketika ia dikejar-kejar oleh orang-orang sedesa karena ia mencuri. Dengan terengah-engah ia terperosok ke dalam sebuah gerumbul. Ia terbebas dari orang-orang yang mengejarnya ketika tiba-tiba saja bahunya ditepuk oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
Demikian takutnya, sehingga tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung menyerang orang itu. Tetapi ia terpelanting jatuh. Seakan-akan tulang-tulangnya terasa berpatahan.
Hatinya menjadi semakin kecut ketika ia melihat orang itu justru tertawa. Katanya, “Kau berbakat. Kau berhasil lolos dari orang-orang bodoh yang mengejarmu. Mari ikut aku.”
Saat itu ia menjadi kebingungan sejenak. Namun akhirnya ia mengikutinya.
“Hem,” Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Hari-hari berikutnya ia adalah seorang penjahat yang semakin lama menjadi semakin besar sebesar nama orang yang membawanya itu.
Panggiring itu pun kemudian tersandar pada sebatang pohon preh beberapa patok dari desa. Pohon preh disimpang tiga. Disitulah Bramanti duduk termangu-mangu pada saat ia datang untuk pertama kali di Kademangannya kembali setelah bertahun-tahun ditinggalkannya.
Panggiring yang bersandar pohon preh itu mendengar juga titir yang mengumandang diseluruh Kademangan yang kini justru telah berhenti. Ia sadar bahwa titir itu sama sekali tidak ditujukan untuknya, karena justru beberapa orang yang mengikutinya telah dengan tergesa-gesa bahkan berlari-lari kembali ke Kademangan.
Namun dada Panggiring itu menjadi berdebar-debar ketika ketajaman matanya menangkap sesosok tubuh yang berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Perlahan-lahan ia ragu-ragu.
Panggiring masih tetap berdiri ditempatnya. Dan sesosok tubuh itu menjadi semakin dekat.
Beberapa langkah daripadanya bayangan itu berhenti.
Panggiring masih belum beranjak dari tempatnya. Tetapi ia menjadi heran ketika ia mengetahui bahwa yang mendekatinya adalah seorang perempuan.
Dan perempuan itu adalah gadis yang bernama Ratri.
Ternyata orang-orang yang mengerumuni Panggiring dan Bramanti disawah sama sekali tidak menaruh perhatian atasnya, karena perhatian mereka tertumpah pada kakak beradik itu. Ketika kemudian terdengar kentong titir, maka orang-orang lain semakin tidak memperhatikannya lagi. Mereka berlari-lari dengan tergesa-gesa ke Kademangan, sehingga Ratri kemudian tertinggal sendiri.
Tetapi ketika kini ia berdiri beberapa langkah dihadapan Panggiring, tubuhnya menjadi gemetar karenanya. Tiba-tiba saja terbersit ketakutan yang amat sangat. Kenapa ia telah berbuat begitu gila, mengikuti Panggiring yang sudah lama tidak dijumpainya? Apakah Panggiring yang sekarang masih sebaik Panggiring yang dahulu?
Bulu-bulunya meremang ketika ia sadar bahwa Panggiring adalah seorang penjahat yang tidak ada taranya. Ia bukan saja merampas hartabenda, tetapi juga merampas kehormatan gadis-gadis. Dan kini Panggiring itu berdiri dihadapannya seorang diri.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 131 Views





Leave a Reply