Tanah Warisan 272
Jumat, 17-05-2002
Ratri menjadi hampir pingsan ketika laki-laki yang bernama Panggiring itu melangkah mendekatinya. Apalagi ketika semakin dekat, ternyata semakin nyata bahwa Panggiring itu sama sekali sudah berubah. Wajahnya sama sekali bukan wajah yang selama ini dibayangkannya. Wajah ini adalah wajah yang kasar, dan bahkan wajah yang penuh dengan noda-noda dan bekas-bekas luka.
“Kenapa aku menjadi gila? Kenapa?” Ratri menyesal bukan buatan. Dan laki-laki berwajah kasar, sekasar batu padas itu menjadi semakin dekat.
Namun ketika ia mendengar suara laki-laki itu, hatinya tersentuh. Suara itu dikenalnya. Suara Panggiring. Tetapi ia heran bahwa laki-laki itu bertanya, “Siapa kau?”
Sejenak Ratri memandang laki-laki itu. “Kenapa ia bertanya?”
Dan pertanyaan itu diulanginya, “Siapa kau?”
Ratri menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab, “Ratri.”
Panggiring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengulangi nama itu, “Ratri, Ratri,” tetapi kemudian ia bertanya, “Dimana rumahmu?”
Ratri menjadi semakin heran. Ternyata Panggiring telah melupakannya.
“Aku anak Candisari. Apakah kakang Panggiring lupa padaku?”
Panggiring mencoba mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum dapat mengenal anak itu.
“Aku Ratri kakang. Ratri.”
Perlahan-lahan kepala Panggiring terangguk-angguk dan terangguk-angguk. Dan perlahan-lahan ia berhasil mengingat kembali seorang gadis kecil yang manis.
Tetapi tidak ada kesan apapun pada Panggiring selain Ratri adalah seorang anak yang manis, yang seperti anak-anak yang lain, sering nakal dan manja.
Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa kau kemari?” Suara itu masih bernada lembut seperti yang dahulu sering didengarnya. Tetapi setiap kali tatapan mata Ratri menyentuh wajah laki-laki itu, terasa kulitnya meremang.
“Bukan, bukan wajah itu yang selalu membayang,” terdengar suara didalam lubuk hatinya yang paling ujung, “Wajah yang aku sangka Panggiring ternyata adalah wajah Bramanti. Dan Bramanti ternyata tidak melupakan aku setelah sekian tahun berpisah. Tetapi Panggiring sama sekali tidak teringat lagi masa kanak-kanak itu.”
Dalam pada itu Ratri mendengar Panggiring berkata, “Pulanglah Ratri. Berbahaya bagimu disini. Apakah kau tadi tidak mendengar suara titir?”
Pertanyaan itu ternyata membuat Ratri semakin kecut. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Aku takut kakang.”
“Takut?” Panggiring mengerutkan keningnya. “Kalau kau takut kenapa kau kemari?”
Ratri terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tetapi hatinya menjadi bertambah ngeri. Ia tidak berani kembali karena suara titir itu, dan ia menjadi semakin ngeri berdiri dihadapan Panggiring tanpa orang lain.
Panggiring pun terdiam sejenak. Ditatapnya saja gadis yang aneh itu. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Marilah, aku antar kau sampai ke pinggir desa.”
Ratri mengangkat wajahnya sejenak. Katanya, “Apakah kau benar-benar akan meninggalkan Kademangan ini?”
Panggiring menganggukkan kepalanya.
Sekilas terbayang dikepala Ratri, bahwa Panggiring pasti bukanlah orang kebanyakan, kalau ia mampu menjadi seorang kepala perampok yang disegani. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Apakah kau tidak berhasrat membantu mereka yang sedang berusaha mengusir Panembahan Sekar Jagat itu?”.
(Bersambung)-m
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 133 Views





Leave a Reply