Tanah Warisan 273
Sabtu, 18-05-2002
Panggiring tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah gadis yang masih berdiri kaku dihadapannya. Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, “Aku sudah berjanji kepada diri sendiri, bahwa aku tidak akan lagi mempergunakan kekerasan untuk maksud apapun.”
“Tetapi, tetapi seisi Kademangan Candisari berada di dalam ketakutan.”
Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan terdengar suaranya, “Candisari sudah tidak memerlukan aku lagi. Untuk melawan Panembahan Sekar Jagat, Candisari sudah memiliki Bramanti. Ia adalah seorang anak muda yang mumpuni.”
Ratri tidak segera menjawab. Tetapi tersirat kekecewaan di hati laki-laki itu. Betapa ia mencoba menerima keadaannya, namun ternyata didasar hatinya terpercik pula kekecewaan yang membekas. Tetapi ditahankannya kekecewaannya itu untuk tetap mengendap di dasar yang paling dalam.
Dalam kediamannya itu Ratri mendengar Panggiring berkata, “Lekaslah Ratri, aku antar kau sampai ke pinggir desa. Kemudian kau pergi ke gardu yang terdekat. Di dalam gardu itu pasti ada dua atau tiga orang. Dan kau dapat berlindung kepada mereka.”
Sekilas Ratri memandang wajah laki-laki yang bernama Panggiring itu. Sekali lagi terasa bulu-bulunya meremang. Wajah itu keras dan kasar sekasar batu-batu padas digerojogan.
Namun demikian kata-katanya masih terasa lembut. Seperti suara dan kata-kata Panggiring yang pernah didengarnya beberapa tahun yang lampau.
“Marilah,” berkata Panggiring kemudian.
Tanpa menjawab lagi Ratri kemudian memutar dirinya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke pedesaan beberapa patok dihadapannya. Meskipun demikian setiap kali ia berpaling untuk melihat laki-laki yang berjalan dibelakangnya. Kadang-kadang tumbuh juga kengerian dihatinya, kalau tiba-tiba saja laki-laki itu menerkamnya.
Tetapi laki-laki itu berjalan beberapa langkah daripadanya. Sama sekali tidak menjadi semakin dekat, justru menjadi semakin jauh.
“Ratri,” berkata Panggiring setelah mereka mendekati sudut desa, “Aku tidak dapat mengantarmu lebih dekat lagi. Aku akan mengotori Kademangan Candisari, karena tangan dan tubuhku telah penuh dengan noda-noda yang tidak terhapuskan. Selamat malam. Aku akan meninggalkan Kademangan ini untuk seterusnya.”
Ratri tertegun sejenak. Perlahan-lahan ia menjawab, “Jadi kau benar-benar akan pergi?”
“Ya Ratri.”
“Dan kau tidak mau membantu mengusir mereka yang sedang memeras Kademangan ini?”
“Aku tidak dapat Ratri. Aku pasti akan dianggap bersalah.”
Ratri menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa di seberang tikungan itu ada sebuah gardu. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata sambil berlari, “Terima kasih Panggiring. Aku akan pergi ke gardu itu.”
Sepeninggalan Ratri, Panggiring masih berdiri sejenak di tempatnya. Masih ada juga seseorang yang mau menyapanya, meskipun hanya sepatah dua patah kata, dan tanpa dimengerti maksudnya.
Perlahan-lahan kepala Panggiring terangguk-angguk. Kemudian ia memutar dirinya dan berjalan meninggalkan padukuhan Candisari. Meskipun kini langkahnya terasa semakin berat, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus pergi.
Sekilas terbayang juga perkelahian antara orang-orang Candisari dan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.
“Hem,” Panggiring mendesah, “Panembahan Sekar Jagat agaknya seorang yang pilih tanding. Apakah Bramanti mampu melawannya?”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 281 Views





Leave a Reply