Tanah Warisan 274
Minggu, 19-05-2002
Tetapi kakinya masih juga melangkah satu-satu. Semakin lama semakin menjauhi kampung halaman.
Sementara itu Ratri datang berlari-lari di gardu yang pertama-tama ia jumpai. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan beberapa orang yang sedang berada di gardu itu.
“Ratri,” sapa salah seorang di antara mereka, “Darimanakah kau?”
“Aku?” Ratri tergagap, “Dari sawah.”
“Malam-malam begini?”
“Tetapi itu tidak penting, antarkan aku pulang.”
“Siapa yang harus mengantarmu? Kami yang dua harus segera pergi ke Kademangan, sedang yang lain, yang tiga harus tetap tinggal di gardu ini.”
“Salah seorang dari yang tiga itu.”
“Tidak berani. Terlampau berbahaya.”
“Jadi? Dua orang mengantarkan aku.”
“Yang seorang tidak berani tinggal seorang diri di gardu.”
“Lalu.”
“Pergilah bersama keduanya yang akan pergi ke Kademangan. Kau akan diantarkan pulang, kemudian mereka akan pergi ke Kademangan untuk memperkuat kesiagaan para pengawal disana.”
“Baiklah.”
Dan sejenak kemudian Ratri bersama dua orang anak-anak muda meninggalkan gardu yang kini tinggal ditunggui oleh tiga orang yang gelisah. Mereka tidak berani berada di dalam gardu. Mereka takut tiba-tiba mereka telah diterkam oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Karena itu, mereka bertiga duduk saja di atas pagar batu disamping gardu, dibelakang rimbunnya dedaunan.
Namun Ratri kemudian sama sekali tidak ingin pulang kerumahnya. Ia memaksa untuk ikut saja ke Kademangan.
“Kau gila Ratri. Apakah kau tidak tahu, bahwa disana mungkin sekali akan terjadi peperangan?”
“Tetapi aku lebih aman berada disana. Kalau keadaan memaksa aku akan bersembunyi di rumah-rumah terdekat. Tetapi kalau aku tinggal dirumah, mungkin ada di antara mereka yang mencari aku.”
Kedua anak muda itu tidak dapat memaksa Ratri pulang. Gadis itu ternyata ikut bersama mereka ke Kademangan, meskipun kemudian ia berhenti agak jauh. Dengan badan gemetar gadis itu berlindung dibalik pagar sebuah halaman rumah yang luas.
“Aku akan bersembunyi di dalam rumah ini. Dirumahku sendiri aku tidak mendapat perlindungan. Ayah pasti berada di halaman ini pula bersama Ki Jagabaya dan orang-orang lain.”
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 147 Views





Leave a Reply