Tanah Warisan 276

Senin, 20-05-2002
 Tetapi yang sebenarnya tersirat di dalam hati Ratri adalah kecemasannya tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Bramanti. Seperti pada saat ia tanpa dapat dikendalikan lagi ingin bertemu dengan Panggiring, maka kini ia telah berbuat serupa. Ia ingin melihat akhir dari perkelahian yang sedang berkecamuk di halaman.
Kini perlahan-lahan ia menyadari, bahwa Panggiring bukan suatu kenyataan yang diharapkannya. Laki-laki itu tidak lebih dari orang lain yang tidak lagi dapat mengenalinya.

Dan tanpa disadarinya tiba-tiba timbullah pertanyaan dihatinya, “Kenapa ia menyangka bahwa anak muda yang bernama Bramanti itu Panggiring?”

Kini ia mengerti, bahwa kenyataan yang dihadapinya itu dianggapnya sebagai suatu angan-angan yang bertolak dari perasaan kekanak-kanakannya.

Tetapi dalam keadaan yang demikian Bramanti sedang berada di dalam bahaya, karena ia sedang berkelahi melawan Panembahan Sekar Jagat, seorang melawan seorang.

Demikianlah yang sedang terjadi di halaman Kademangan. Bramanti dengan pedang pendeknya bertempur mati-matian melawan Panembahan Sekar Jagat yang memegang sebatang trisula bertangkai sepanjang lengannya.

Pertempuran di antara kedua orang itu semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata Bramanti adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan yang luar biasa. dan kini ternyata, bahwa dengan tangasnya ia mampu melawan trisula itu dengan pedang pendeknya. Dengan lincahnya ia berloncat-loncat seperti burung sikatan. Namun tiba-tiba saja pedang pendeknya mematuk-matuk dengan dahsyatnya.

Tetapi lawannya adalah seorang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat. Seorang pemeras yang tidak ada taranya di daerah Selatan. Tidak hanya di sekitar Kademangan Candisari.

Dalam kesibukan membangun diri, Mataram masih belum dapat berbuat terlampau banyak, sehingga Candisari, Prambanan, membujur ke Timur, seakan-akan tidak lagi mendapat perlindungannya.

Panembahan Sekar Jagat adalah seseorang yang telah masak untuk melakukan pekerjaan yang dipilihnya. Ia adalah seorang yang dapat berbuat apa saja tanpa berkesan dihatinya. Apalagi lawan, kawan dan anak buahnya sendiri, tidak terkecuali. Kalau ia ingin membunuh, maka ia pun segera membunuh.

Meskipun demikian ia terpaksa sekali-kali mengumpat melawan anak muda yang bernama Bramanti. Anak yang tangguh dan tangkas tiada taranya. Belum pernah ia menemui lawan seperti anak ini.

Namun dengan demikian, Panembahan Sekar Jagat menjadi semakin lama semakin marah. Dari matanya seakan-akan memancar bara api yang paling panas. Sekali-kali ia menggeretakkan giginya, dan bahkan kemudian ia menggeram, “Kau memang ingin aku cincang Sabuk Tampar.”

Bramanti tidak menjawab. Peluhnya telah membasahi seluruh tubuhnya. Setiap kali ia terkejut apabila ujung trisula lawannya hampir menyentuh keningnya. Bahkan semakin lama semakin sering. Ujung trisula itu rasa-rasanya menjadi semakin lama semakin banyak. Tidak hanya bermata tiga, namun serasa menjadi bermata sepuluh, lima belas. O, bahkan kemudian seakan-akan trisula itulah yang menjadi sepuluh dan lima belas, sehingga ujungnya menjadi semakin banyak.

Leave a Reply