Tanah Warisan 277
Selasa, 21-05-2002
Bramanti mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Ia tidak mau terpengaruh oleh kecepatan bergerak tangan Panembahan Sekar Jagat.
Ia tidak mau dibingungkan oleh ujung-ujung senjata yang hanya sekadar semu. Tetapi ia tahu pasti, ujung trisula yang hanya sebuah itu adalah tiga pucuk.
Dengan sepenuh kemampuan Bramanti mengimbangi kecepatan bergera lawannya. Pedang pendeknya menyambar-nyambar seperti seberkas kumbang yang beterbangan diseputar lawannya.
Mereka yang menyaksikan pertempuran itu terpaku ditempatnya seperti kehilangan ke- sadaran. Baik orang-orang Panembahan Sekar Jagat, maupun para pengawal Kademangan Candisari.
Wanda Geni yang memiliki kemampuan yang cukup itupun berdiri tegak seperti tiang dengan mulut ternganga. Ia belum pernah menyaksikan pertempuran demikian dahsyatnya. Desak mendesak, dorong mendorong silih berganti. Ia belum pernah melihat Panembahan Sekar Jagat memerlukan waktu yang sekian banyaknya untuk menyelesaikan lawannya. Namun kini, mereka bahkan masih saja seimbang.
Ki Demang Candisari pun berdiri termangu-mangu. Sama sekali tidak terlintas dikepalanya, bahwa anak Pruwita yang terbunuh itu benar-benar mampu bertempur melawan Panembahan Sekar Jagat.
Apalagi Ki Jagabaya, Temunggul, Panjang, Suwela dan kawan-kawannya. Mereka hampir tidak mengerti, bagaimana perkelahian yang demikian itu dapat terjadi.
Malam yang semakin dalam langsung menukik ke akhirnya. Semburat warna merah membayang dilangit.
Dan ayam jantan yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi di Kademangannya, masih juga berkokok bersahut-sahutan.
“Setan alas,” geram Panembahan Sekar Jagat, “Kau memang anak yang luar biasa. Agaknya kau masih sempat sekali lagi memandang fajar yang mekar dilangit.”
Bramanti tidak menjawab. Tetapi nafasnya telah menjadi semakin memburu. Segala macam kemampuan dan ilmu yang pernah diterimanya telah ditumpahkannya dalam perlawanannya atas Panembahan Sekar Jagat kali ini.
Namun ternyata bahwa kali ini ia bertemu dengan seorang yang tidak dapat dikuasainya dengan ilmunya itu.
Ternyata bahwa Panembahan Sekar Jagat memiliki kelebihan dari lawannya yang masih terlampau muda itu. Sekar Jagat memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak untuk mengenal kelemahan lawan.
Dan kali ini Panembahan Sekar Jagat dengan tersenyum di dalam hati berkata kepada diri sendiri,
“Kalau kau terlampau banyak menghamburkan tenaga anak muda. Sebentar lagi kau akan kelelahan. Meskipun aku tidak dapat mengalahkan ilmumu, tetapi apabila tenagamu susut, maka kau akan segera dapat aku kuasai. Kau akan segera menjadi tontonan, bagaimana Panembahan Sekar Jagat menghukum orang yang berani menentangnya.”
Dan perhitungan Panembahan Sekar Jagat itu ternyata tepat. Betapapun dahsyatnya ilmu Bramanti, tetapi Panembahan Sekar Jagat lambat laun berhasil menguasainya.
Pengalaman yang panjang, serta sifat-sifatnya yang tidak pernah ragu-ragu melihat darah mengalir, telah membuatnya kali ini berhasil mendesak Bramanti.
(Bersambung)-m
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 140 Views





Leave a Reply