Tanah Warisan 278

Rabu, 22-05-2002
 Cahaya dilangitpun menjadi semakin lama semakin terang. Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman segera dapat melihat, selain keringat, pakaian Bramanti telah diwarnai oleh bintik-bintik darahnya. Ternyata ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berhasil menyentuhnya beberapa kali.

“Ha,” berkata Panembahan Sekar Jagat, “Kau akan segera melihat matahari yang terakhir. Kemudian setiap orang akan melihat kau terikat disebuah tiang ditengah-tengah halaman ini. Semua orang harus melukaimu dan menitikkan air garam ke luka itu.”

Suasana menjadi semakin lama semakin tegang. Tenaga Bramanti memang sudah mulai susut. Setiap kali ia terdesak dan berputaran. Bahkan beberapa kali Bramanti terdorong, dan hampir-hampir saja ia jatuh terlentang.

Hanya karena tekadnya yang menyala di dadanya, ia masih mampu melakukan perlawanan.

Ki Tambi berdiri membeku ditempatnya. Nafasnya pun ikut terengah-engah pula. Ada juga orang yang dapat melampaui kemampuan Bramanti. Dan kini Bramanti benar-benar berada dalam bahaya.

Tetapi Ki Tambi bukan seorang pengecut. Sekilas ia sambarkan wajah Temunggul yang merah membara. Urat-uratnya seakan-akan menonjol dikeningnya. Demikian tegangnya ia menyaksikan perkelahian itu, sehingga ia tidak lagi menyadari keadaan disekitarnya.

“Kalau Bramanti memang harus kalah,” berkata Ki Tambi di dalam hatinya. “Seluruh isi Kademangan harus mengangkat senjata.”

Tetapi Ki Tambi menyadari, bahwa dengan demikian hati para pengawal pasti sudah tergetar. Bramanti adalah kebanggaan mereka, dan Bramanti telah dikalahkan.

Semua orang yang menyaksikan perkelahian itu terkejut ketika mereka melihat benturan senjata keduanya. Ketika matahari telah menjatuhkan sinarnya pada kedua orang yang sedang bertempur itu, maka sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Bramanti yang kelelahan tidak dapat lagi bertahan lebih lama, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut. Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya lagi ia jatuh terlentang, dan senjatanya terlepas dari tangannya.

Sejenak, semua orang diam membeku. Bahkan darah para pengawal Kademangan, Temunggul, Ki Tambi, Ki Jagabaya, serasa berhenti mengalir. Dengan pandangan kosong mereka melihat Panembahan Sekar Jagat itu berdiri bertolak pinggang beberapa langkah dari Bramanti. Kemudian terdengar suara tertawanya membelah keheningan.

“Hem,” desahnya, “Kau memang anak yang luar biasa. Kau mampu menitikkan keringatku. Aku harus bertempur mengerahkan segenap kemampuanku untuk mengalahkan kau. Tetapi akhirnya, kau hanya sekadar menunggu matahari terbit. Dan kau akan mendapat hukuman picis di halaman Kademangan ini, setelah aku merobek perutmu, dan mematahkan tanganmu. Jangan takut, kau tidak akan segera mati karena kau harus mengalami rasa sakit dan ketakutan, penyesalan dan kekecewaan.

Kemudian aku akan membutakan matamu dan membiarkan kau sembuh, karena aku mempunyai seorang dukun yang baik. Persetan dengan ceritera tentang orang-orang buta dan orang-orang cacat. Orang yang lengkap dengan ilmu Sapta Pangrungu, Sapta Pamiyat dan Sapta Pangrasa, dengan kelebihan jasmaniah dan kelengkapan indera akan pasti lebih baik dari mereka yang cacat. Aku akan membuktikannya, dan kau akan menjadi percobaan. Aku akan menyempurnakan inderaku dan kau dapat mencari dalam kegelapan butamu. Lain kali kita akan bertemu, apakah kau akan dapat mengalahkan aku.”

Leave a Reply