Tanah Warisan 279
Kamis, 23-05-2002
Bramanti tidak menjawab. Tetapi yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat adalah siksaan yang tiada taranya. Meskipun ia sadar, tetapi ia tidak mengeluh.
Ketika Bramanti mencoba bangkit, tiba-tiba saja ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berada setebal daun dihadapan mata Bramanti, sehingga Bramanti terpaksa mengurungkan niatnya.
“Jangan mencoba melawan. Aku masih mempunyai berjenis-jenis cara untuk menghukummu.”
Tidak terdengar sebuah desispun dari mulut Bramanti. Apalagi sebuah keluhan. Ditatapnya mata Panembahan Sekar Jagat dengan tajamnya.
Panembahan Sekar Jagat mengerutkan keningnya melihat ketajaman mata Bramanti. Sama sekali tidak terbayang ketakutan, kecemasan penyesalan dan perasaan-perasaan yang diharapkannya.
“Setan alas. Kenapa kau tidak merintih he?”
Bramanti tidak menyahut. Tetapi ia terdorong dan sekali lagi terbaring menelentang ketika kaki Panembahan Sekar Jagat mengenai dagunya.
“Kau memang keras kepala. Aku tidak tahan menunggu terlalu lama untuk melubangi matamu.”
Panembahan Sekar Jagat tiba-tiba menjadi semakin buas. Matanya menjadi merah dan giginya gemeretak menahan kekecewaannya. Ternyata Bramanti sama sekali tidak merengek dan merintih seperti yang diharapkannya.
Namun dalam keadaan itu, selagi dengan penuh nafsu yang menyala didadanya, Panembahan Sekar Jagat melangkah semakin mendekat, seluruh halaman itu seakan-akan terguncang ketika Panembahan Sekar Jagat itu tiba-tiba berhenti. Bahkan Panembahan Sekar Jagat itupun terkejut pula bukan buatan.
Dalam ketegangan itu melayanglah sebuah kepingan perak yang berkilat-kilat tepat dihadapan kaki Panembahan Sekar Jagat.
Panembahan Sekar Jagat tertegun sejenak. Dengan tangkai trisulanya ia mendorong benda itu lebih mendekat. Dan tiba-tiba dengan tangan gemetar dipungutnya kepingan perak itu, dan dengan suara gemetar ia berdesis, “Candisari.”
Dan semua jantung serasa berhenti berdetak ketika dari antara mereka yang berdiri mengitari halaman itu terdengar suara yang berat tertahan, “Panembahan Sekar Jagat, aku datang menemui tantanganmu.”
Ketika setiap mata berpaling ke arah suara itu, mereka melihat seseorang yang bertubuh kekar, berwajah sekeras batu padas di gerojogan meloncat masuk ke arena.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 228 Views





Leave a Reply