Tanah Warisan 280
Jumat, 24-05-2002
Ternyata semula tidak ada seorang pun yang memperhatikan kehadirannya. Namun kini tiba-tiba setiap mulut berdesis, “Panggiring. Ya, Panggiring.”
Ketegangan dihalaman itu menjadi semakin memuncak. Setiap dada menjadi bergejolak.
Perlahan-lahan Panggiring berjalan mendekati Panembahan Sekar Jagat. Tatapan matanya yang setajam ujung pedang itu langsung menusuk kemata Panembahan Sekar Jagat.
Baik Panembahan Sekar Jagat, maupun Bramanti yang masih terlentang ditanah, sejenak tidak bergerak. Mereka memandang langkah Panggiring yang tenang dan meyakinkan.
Bagaimanapun juga, terasa sesuatu berdetak dijantung Bramanti. Apalagi Ki Tambi. Langkah Panggiring kali ini bukan langkah Panggiring semalam yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tetapi Panggiring yang ini, maju selangkah demi selangkah dengan dada tengadah.
“Maaf Panembahan Sekar Jagat,” berkata Panggiring, “Baru sekarang aku datang memenuhi undanganmu. Aku berterima kasih, karena kau telah sudi mengundang aku yang selama ini berkuasa tanpa tanding di pesisir Utara. Agaknya kaupun merasa tanpa tanding dijaluran Selatan pulau ini, apalagi pada saat Pajang tenggelam dan lahir suatu pemerintahan baru yang masih belum mapan.
Panembahan Sekar Jagat agaknya telah dapat menguasai terkejutnya. Karena itu ia berkisar sambil menjawab,
“Huh, ternyata kau datang setelah sekian lama menjawab tantanganku. Kemanakah kau selama ini Panggiring?”
“Aku tidak ada ditempat Panembahan. Aku sedang mengitari semenanjung Melayu, menyusuri laut Cina Selatan, untuk melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan Naga Kuning yang menurut ceritera menakutkan. Tetapi ternyata mereka tidak lebih dari anak-anak yang baru belajar berenang dilaut yang diam.”
“Persetan,” potong Panembahan Sekar Jagat. “Kau mengigau. Aku jangan kau takut-takuti dengan ceritera ngayawara itu.”
Tiba-tiba Panggiring tertawa. Suaranya mengerikan seakan-akan mengguncang setiap dada mereka yang mendengarnya.
“Kau takut mendengar ceritera itu? Baiklah. Aku tidak akan berceritera tentang petualangan. Sekarang, aku telah datang memenuhi tantanganmu.”
“Baik. Baik. Kita akan meminjam arena ini.”
“Aku terima usulmu,” jawab Panggiring. “Tetapi agaknya kau masih lelah bermain-main dengan anak ini. Supaya adil aku akan memberimu kesempatan beristirahat Mungkin sehari atau dua hari, supaya ilmumu yang hanya sekadarnya itu dapat pulih kembali.”
Panembahan Sekar Jagat menggeretakkan giginya. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Tidak. Aku tidak memerlukan apa-apa. Sekarang juga kita bertempur. Aku kira kaupun tidak akan lebih baik dari anak ini. Dan aku akan menghancurkan kau lebih lumat dari Bramanti yang sombong ini.”
Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sekali lagi ia tertawa pendek. Disapunya setiap wajah dengan tatapan matanya. Ki Tambi, Ki Jagabaya, Bramanti yang perlahan-lahan kini duduk ditanah, anak-anak muda pengawal Kademangan dan beberapa orang anak buah Panembahan Sekar Jagat. Sejenak ia menengadahkan kepalanya memandang cerahnya langit dan segarnya sinar matahari pagi yang bermain di dedaunan.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 242 Views





Leave a Reply