Tanah Warisan 281
Senin, 27-05-2002
Kemudian ia menjawab, “Baiklah Panembahan. Kalau kau memang merasa cukup mampu untuk bertempur sekarang, marilah. Bagiku lebih cepat memang lebih baik. Aku harus segera meninggalkan Kademangan ini. Tetapi tentu tidak mungkin selagi aku belum memenuhi tantanganmu, supaya tidak menjadi duri dalam hidupku selanjutnya.”
“Persetan,” Panembahan Sekar Jagat menggeram.
Panggiring tersenyum. Ia bergeser beberapa langkah sambil memandang ujung trisula Panembahan Sekar Jagat yang bergetar. Tiba-tiba saja ia merunduk memungut pedang Bramanti yang tergolek di tanah.
“Aku meminjam pedang pendekmu Bramanti,” berkata Panggiring.
“Dimana senjatamu sendiri,” teriak Panembahan Sekar Jagat sebelum Bramanti menyahut.
“Aku tidak membawa senjata. Aku memang merasa tidak perlu memerlukan senjata. Hanya supaya kau merasa lebih terhormat aku meminjam senjata Bramanti.
Panembahan Sekar Jagat yang agak ketinggi-tinggian itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunnya, sehingga sambil melangkah maju ia berkata, “Kau memang terlampau sombong. Selama ini di pesisir Utara kau hanya melihat kelinci-kelinci. Tetapi di sini kau bertemu dengan harimau.”
“Tidak,” jawab Panggiring. “Di sebelah Timur Cirebon aku membunuh dua ekor harimau sekaligus dengan jari-jariku.”
“Gila, gila,” teriak Panembahan Sekar Jagat, “Kita akan segera melihat, siapakah yang menjadi seorang pembual diantara kita.”
Panggiring mengangguk sambil melangkah maju. “Baik. Kita segera mulai.”
Panembahan Sekar Jagat tidak berbicara lagi. Kini ia bersiaga. Kakinya seakan-akan berakar dalam-dalam menghujam kebumi, sedang kedua tangannya menggenggam tangkai trisulanya erat-erat. ia merendah sedikit diatas lututnya, sedang kakinya merenggang setengah langkah.
Panggiring masih menimang-nimang pedang pendek Bramanti yang akan dipergunakannya untuk melawan trisula Panembahan Sekar Jagat. Ditatapnya wajah lawannya yang licin, serta janggutnya yang terpelihara rapi. Pakaiannya yang bagus yang kini telah basah oleh keringat, selagi ia bertempur melawan Bramanti, dan keringat karena kemarahan yang menyesak didadanya.
Sejenak mereka berdiri berhadapan. Panggiring melihat dengan sepenuh kesadarannya, bahwa Panembahan Sekar Jagat memang seorang yang pilih tanding. Ia telah lama mengikuti perkelahian Panembahan itu melawan Bramanti, sehingga dengan demikian ia mengerti betapa besar kemampuannya menggerakkan senjatanya itu.
Panembahan Sekar Jagat yang telah bersiaga sepenuhnya itu bergeser maju selangkah. Panggiring pun kemudian menyilangkan pedang didadanya.
Kini keduanya telah berhadapan. Beberapa langkah mereka bergeser. Wajah-wajah mereka menjadi tegang, dan mata mereka tidak bergerak dari ujung senjata lawan masing-masing.
Semua orang yang berdiri diseputar arena menahan nafas. Wajah-wajah mereka pun menjadi tegang pula. Mereka sama sekali terikat oleh dua orang yang berdiri di tengah-tengah halaman Kademangan.
Sementara itu Bramanti perlahan-lahan berdiri dan bergerak menepi. Ia sadar, bahwa perkelahian yang bakal terjadi tidak akan kalah dahsyatnya dengan perkelahian yang baru saja dialaminya. Menurut pendengarannya Panggiring adalah seorang yang luar biasa. Agaknya kakaknya itu telah mengikuti perkelahian tanpa setahunya. Kalau Panggiring tidak mempunyai perhitungan tertentu, ia pasti tidak akan berani turun di arena. (Bersambung)-o
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 582 Views





Leave a Reply