Tanah Warisan 282

Selasa, 28-05-2002
 Sesaat kemudian ujung trisula Panem- bahan Sekar Jagat bergetar. Panggiring yang telah bersiap sepenuhnya segera menyadari keadaan, karena itu, maka ketika ujung trisula itu tiba-tiba saja mematuknya, ia telah siap untuk menghindarinya.

Demikianlah, perkelahian telah berulang kembali dihalaman Kademangan itu. Kini antara dua orang yang merajai daerah yang luas di pesisir Utara dan didaerah sebelah Selatan. Keduanya adalah orang-orang yang namanya cukup menggetarkan. Panggiring dan Panembahan Sekar Jagat.

Sekar Jagat yang berkelahi dengan kemarahan yang menyala di dadanya, segera melibat lawannya seperti angin pusaran. Trisulanya mematuk-matuk, kemudian menyambar-nyambar dalam jarak yang mendatar. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali yang perkasa. Tangan Panggiring kadang-kadang mengembang seperti sayap. Dengan ringannya ia melontarkan dirinya, kemudian menukik dengan ujung pedang pendeknya menerkam lawannya.

Tetapi Panembahan Sekar Jagat cukup tangkas. Ujung-ujung trisulanya yang mendebarkan itu langsung menyongsong dada lawannya. Namun Panggiring pun tidak membiarkan dadanya berlubang tiga buah. Dengan menggeliat ia menarik pedang pendeknya, kemudian memukul sisi ujung-ujung trisula itu dengan sekuat tenaganya.

Sebuah benturan kemudian terjadi sehingga bunga api memercik ke udara, menyalakan sepercik kecemasan setiap hati yang menyaksikannya.

Tetapi dengan suatu loncatan yang manis Panggiring kemudian telah berdiri tegak di atas kedua kakinya, sedang Panembahan Sekar Jagat tergeser selangkah surut. Tetapi kedua kakinya kemudian seakan-akan telah menghujam kembali dalam-dalam sampai ke pusat bumi.

Mereka yang menyaksikan perkelahian itu, seakan-akan tidak sempat untuk bernafas. Mata mereka tidak lagi berkedip meskipun debu yang putih telah membuat mata itu menjadi pedih.

Tetapi mereka tidak mau kehilangan gerak yang kadang-kadang tidak mereka mengerti itu sedikitpun juga.

Bramanti yang kini berdiri tegak dipinggir arena menyaksikan pertempuran itu dengan pandangan yang hampir tidak terlepas sesaatpun juga. Justru karena ia mengerti apa yang telah terjadi, maka hatinya menjadi tegang bukan buatan.

Ia melihat dengan pasti ujung-ujung senjata itu menyambar-nyambar, dan kemungkinan-kemungkinan yang mendebarkan jantung.

Ia dapat memperhitungkan setiap gerak Panembahan Sekar Jagat, maupun yang dilakukan oleh Panggiring dan ia pun dapat menduga, jalan pikiran keduanya untuk mengatasi keadaan masing-masing. Justru karena ia berada diluar perkelahian itulah kini ia dapat melihat, Panembahan Sekar Jagat memang memiliki ilmu yang luar biasa. Gerakannya terlampau cepat, dan kadang-kadang diluar dugaan.

Dengan demikian maka bagaimanapun juga ia kini mengakui di dalam hati, memang sulitlah baginya untuk mengalahkannya, bagaimanapun juga ia berusaha.

Tetapi sejalan dengan itu, ia tidak juga dapat melepaskan pengakuannya atas kemampuan Panggiring. Berita tentang namanya yang bergema di pesisir Utara, bukanlah cerita ngaya-wara yang tidak berdasar. Kini ia menyaksikan bagaimana Panggiring berkelahi melawan Panembahan Sekar Jagat yang telah mengalahkannya.

Kini ternyata pada Bramanti, bahwa dengan demikian, lencana Panggiring memang dapat menggetarkan setiap jantung. Dan wajarlah kiranya apabila lencana bergambar candi itu di dada Ki Tambi akan mampu melindunginya dari kejahatan.

Leave a Reply