Tanah Warisan 283

Rabu, 29-05-2002
 Perkelahian yang terjadi di halaman Kademangan Candisari memang hampir tidak masuk akal mereka yang menyaksikannya. Keduanya seolah-olah sudah bukan manusia wajar lagi. Benturan kekuatan mereka yang terjadi pada ujung-ujung senjata, seakan-akan merupakan benturan lidah api yang meledak di langit musim kesanga. Kemudian disusul dengan suara gemuruhnya guntur dan meloncatnya api membakar udara yang menjadi semakin panas.

Panembahan Sekar Jagat berkelahi seperti seekor harimau yang lapar, sedang Panggiring berlaga seperti seekor burung rajawali. Ujung-ujung trisula Panembahan Sekar Jagat menerkam dari segala penjuru bagaikan kuku-kuku yang tajam dan mengerikan, sedang pedang pendek ditangan Panggiring bagaikan paruh seekor burung raksasa yang dahsyat.

Matahari memanjat dilangit semakin tinggi. Panasnya sudah mulai terasa menggatalkan kulit. Tetapi tidak seorang pun yang menghiraukan lagi keringat yang membasahi pakaian dan kulit mereka. Mata mereka terpaku di arena, menyaksikan dua orang raksasa yang sedang bertaruh nyawa.

Namun lambat laun, keseimbangan perkelahian itu mulai bergerak. Panggiring benar-benar seorang pemimpin perampok yang pilih tanding. Tangannya yang kokoh kuat dengan sebuah pedang pendek benar-benar menjadi tangan-tangan maut yang sedang menari-nari mengitari Panembahan Sekar Jagat yang mencoba mempertahankan diri.

Bramanti menahan nafasnya ketika ia melihat perkembangan dari perkelahian itu. Agaknya Panembahan Sekar Jagat benar-benar telah memeras kemampuan yang ada padanya, sedang Panggiring pun telah berkelahi sekuat-kuat tenaganya.

Dalam penumpahan segenap ilmu itu, masing-masing sampai pada puncak usahanya untuk membinasakan lawannya. Dalam saat-saat yang demikian, sekali lagi ujung-ujung senjata Panembahan Sekar Jagat berhasil menyentuh lawannya seperti pada saat ia bertempur melawan Bramanti. Sekali-kali ujung trisula itu sempat menyobek kulit Panggiring.

Bramanti menjadi semakin tegang ketika ia melihat darah menitik dari kening Panggiring yang nyaris berlubang, kemudian pakaian Panggiring menjadi merah pula, karena punggungnya sobek menyilang meskipun tidak begitu dalam.

Tetapi luka dan bau darah itu agaknya benar-benar telah membuat Panggiring menjadi garang. Sekian lama ia berusaha untuk membuang senjatanya dan tidak mau lagi mengotori tangannya dengan tindak kekerasan apapun alasannya. Namun ia adalah seorang manusia biasa. Seorang manusia yang masih dipengaruhi oleh perasaan dan sifat-sifatnya.

Agaknya luka dan darah itu telah mengaburkan tekadnya untuk tidak menodai lagi tangannya dengan darah. Dan sebenarnyalah Panggiring tidak ingin membunuh dirinya di halaman Kademangan Candisari, yang pasti akan disusul dengan pembantaian yang mengerikan.

Karena itu maka sejenak kemudian Panggiring memusatkan segenap kemampuannya. Wajahnya yang tegang menjadi semakin merah membara.

Dalam ketegangan yang semakin membara, tiba-tiba terdengar Panggiring berteriak tinggi. Pedangnya terangkat, seakan-akan hendak menusuk langit. Hanya sejenak, dan sejenak kemudian Panggiring benar-benar bagaikan burung rajawali yang kehilangan anaknya, menyambar lawannya dengan dahsyatnya.
(Bersambung)-m

Leave a Reply