Tanah Warisan 284
Kamis, 30-05-2002
Perkelahian yang semakin sengit telah terjadi. Tetapi kali ini Panembahan Sekar Jagat tidak dapat berbangga karena ia berhasil melukai lawannya. Dalam beberapa saat ternyata bahwa ujung pedang pendek Panggiring telah berhasil menyentuhnya pula. Ketika Panembahan Sekar Jagat menusuk Panggiring dengan trisulanya, justru Panggiring berhasil menyusup maju dan dengan ujung goloknya ia mencoba menikam dada lawannya. Tetapi dengan tangkas Panembahan Sekar Jagat mencoba menghindarinya. Kegagalan itu telah membuat Panggiring semakin marah, kemudian digerakkannya pedang itu mendatar setinggi dada. Sekali lagi Panembahan Sekar Jagat mencoba bergeser surut. Tetapi gerakan yang cepat berikutnya, Panggiring berhasil menggores pundak kiri lawannya, kemudian serangannya yang berganda, membuat Panembahan Sekar Jagat terdorong ke belakang. Untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan berikutnya, Panembahan Sekar Jagat justru berguling ke belakang, kemudian melanting dengan lincahnya sambil memutar trisulanya.
Saat-saat yang datang berikutnya adalah saat-saat yang paling tegang. Keduanya seakan-akan telah menjadi gila. Bukan saja Panembahan Sekar Jagat, tetapi Panggiring pun seolah-olah telah berubah menjadi semakin buas dan liar.
Dan dalam puncak ketegangan, terdengarlah sebuah keluhan tertahan. Bramantilah yang pertama-tama melihat Panembahan Sekar Jagat terdorong surut sambil memegangi dadanya. Dari sela-sela jarinya melelehlah darah yang merah.
Tetapi Panembahan Sekar Jagat bukan seorang yang lekas menjadi putus asa. Meskipun dadanya telah terluka, tetapi tatapan matanya justru menjadi semakin menyala. Sambil menggeram ia mengangkat trisulanya, kemudian meloncat maju seakan-akan ingin menerkam Panggiring dan merobek-robeknya.
Panggiring masih sempat menghindar. Sambil menggeser diri, ia menggerakkan pedang pendeknya mendatar. Dari bawah ayunan trisula ia mencoba menjulurkan tangannya sejauh-jauhnya dapat dijangkau.
Sekali lagi Panembahan Sekar Jagat berdesah. Sekali lagi pedang pendek Panggiring menyambar. Kali ini mengenai lambung.
Panembahan Sekar Jagat yang terluka itu, menjadi semakin buas. Sambil berteriak nyaring ia melontarkan dirinya kembali, seakan-akan justru menjadi semakin garang. Kini ia menyerang Panggiring dengan sebuah putaran. Karena Panggiring masih menghindar sambil meloncat, maka ia pun segera memburunya. Dengan sekuat tenaganya ia mengayunkan trisulanya. Kali ini terlampau rendah.
Panggiring yang baru saja menjejakkan kakinya, tidak segera dapat meloncat kembali. Yang dapat dilakukan adalah menangkis serangan itu. Tetapi agaknya ayunan trisula itu terlampau kuat, sehingga benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang sangat dahsyat. Panggiring mencoba mengungkit trisula itu ke atas. Tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya, sehingga trisula itu sekali lagi menyambar pundaknya.
Beberapa langkah ia terhuyung-huyung. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesempatan yang terbuka. Selagi Panembahan Sekar Jagat mencoba memperbaiki genggamannya atas senjatanya, pada saat itulah Panggiring meloncat sambil menjulurkan pedangnya lurus-lurus ke depan.
Panembahan Sekar Jagat tidak sempat mengelakkan dirinya. Ia mencoba menangkis serangan itu dengan trisulanya yang belum mapan. Tetapi kali ini tidak berhasil. Tangkai trisulanya justru mengenai dada Panggiring yang berdesah tertahan. Namun dalam pada itu pedang Panggiring telah berhasil menembus dada lawannya.
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 843 Views





on June 7th, 2011 at 8:26 am Said:
Hey! I’m at work browsing your blog from my new apple iphone! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Keep up the fantastic work!