Tanah Warisan 285

Jumat, 31-05-2002
 Panggiring tidak sempat menarik pedangnya. Ketika Panembahan Sekar Jagat kemudian terhuyung-huyung surut, kemudian roboh ditanah. Panggiring melepaskan pedangnya, dan bahkan ia sendiri menjadi pening. Tetapi ketika terdengar desah nafas terakhir Panembahan Sekar Jagat, Panggiring masih tetap berdiri sambil merenggangkan kakinya ke arah kaki lawannya.

Sesaat arena dan seluruh halaman itu menjadi sepi. Semua mata terpaku pada apa yang telah terjadi di halaman. Dua orang yang mempunyai nama yang menakutkan agaknya telah benar-benar menyabung nyawa. Dan demikianlah akhir dari perkelahian itu. Panembahan Sekar Jagat terbunuh.

Ketika orang-orang yang menyaksikan kematian Panembahan Sekar Jagat itu masih terpukau ditempatnya, tiba-tiba Ki Tambi meloncat ke depan sambil berteriak nyaring, “Nah lihatlah kalian he orang-orang Sekar Jagat. Pemimpinmu telah mati. Dan kalian kini berhadapan dengan seluruh kekuatan Candisari. Lihat. Disini berdiri dua orang kakak beradik yang tidak ada taranya. Panggiring dan Bramanti. Apakah kalian akan melawannya.”

Orang-orang Panembahan Sekar Jagat seolah-oleh membeku ditempat masing-masing. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan penglihatannya, bahwa Panembahan Sekar Jagat telah terbunuh. Dan mereka pun mendengar apa yang diteriakkan oleh Ki Tambi, bahwa kini berdiri dua orang kakak beradik yang nggegirisi, Panggiring dan Bramanti.

“Kalau kalian mempunyai otak, kalian pasti akan lebih baik menyerah. Kami akan memperlakukan kalian sesuai dengan keharusan yang berlaku. Dan kami berharap bahwa dalam waktu singkat Mataram telah dapat menampung kalian, apapun hukuman yang akan ditimpakan.”

Orang pertama di dalam pasukan Sekar Jagat itu kini adalah Wanda Geni. Tanpa dapat berbuat apa-apa lagi ia melemparkan senjatanya ketanah sambil berkata, “Aku menyerah.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Bagus. Bagus. Kau cukup bijaksana,” kemudian diedarkannya tatapan matanya sambil berkata, “Temunggul, Temunggul. Lucuti mereka semua.”

Tetapi Ki Tambi tidak segera menemukan Temunggul. Ketika ia melihat Panjang, maka ia pun segera berteriak, “Panjang, lakukan bersama semua pengawal.”

Tetapi sebelum Panjang beranjak, mereka melihat Temunggul menyusup maju sambil menggandeng Ki Demang Candisari. Katanya, “Ia akan mencoba melarikan dirinya.”

Leave a Reply