Tanah Warisan 286
Sat. December 29, 2007Categories: Tanah warisan
Sabtu, 01-06-2002
Kini semua mata terpaku kepada Ki Demang. Dan Temunggul berkata, “Ialah yang pernah membujukku membunuh Bramanti. Untunglah bahwa otakku masih jernih. Ternyata bahwa Ki Demang menjadi salah seorang penunjuk jalan bagi Panembahan Sekar Jagat dan sudah barang tentu ia pun mendapat banyak daripadanya.”
Ki Demang tidak menjawab, tetapi kepalanya tunduk dalam-dalam. Ia sama sekali tidak lagi berani menatap wajah rakyat di Kademangannya Candisari.
Dalam pada itu terdengar suara perempuan yang berdiri di antara para pengawal, “Panggiring, kau selamat?”
Panggiring yang berdiri membeku tiba-tiba berpaling. Dilihatnya seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih di antara para pengawal yang lagi sibuk melucuti senjata orang-orang Panembahan Sekar Jagat.
“Ibu,” desis Panggiring.
Ketika perempuan itu memasuki halaman, maka dengan serta merta Panggiring pun berlari mendapatkannya. Seperti semalam kini ia berjongkok pula di hadapan ibunya. Tetapi kali ini ditatapnya tangannya sendiri yang masih dilumuri darah yang memancar dari Panembahan Sekar Jagat. Dengan suara parau ia berkata, “Terpaksa, terpaksa aku lakukan ibu. Ternyata aku masih sekali lagi membunuh meskipun aku pernah berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Tetapi, tetapi tangan yang sedang aku coba untuk membersihkannya, kini telah diwarnai oleh darah. Darah.”
Tangan Panggiring itu menjadi gemetar.
Dibelainya kepala Panggiring sambil berdesis, “Tapi dengan demikian kau telah menyelamatkan beratus-ratus nyawa Panggiring, termasuk nyawa adikmu.”
Sejenak Panggiring mengangkat kepalanya. Namun kepala itu kemudian tunduk kembali memandangi jari-jari tangannya yang merah oleh darah.
“Aku telah membunuh satu orang lagi,” desisnya, “Terpaksa. Terpaksa aku melakukannya.”
“Tetapi yang satu ini tidak perlu disesali,” desis ibunya sambil membelai kepala anaknya itu seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.
“Kau telah menyelamatkan seluruh Kademangan ini Panggiring,” terdengar suara berat dibelakang anak muda yang berjongkok itu.
Panggiring perlahan-lahan berpaling. Dilihatnya Ki Jagabaya berdiri tegak berdampingan dengan Ki Tambi, sedang beberapa langkah dibelakang mereka, Bramanti berdiri termangu-mangu.
“Bramanti,” panggil ibunya, “Kemarilah. Bukankah kau juga selamat?”
Bramanti maju beberapa langkah. Namun kemudian langkahnya terhenti. Dipandanginya Panggiring yang kemudian berdiri pula perlahan-lahan. Sejenak keduanya saling berpandangan. Tetapi sejenak kemudian Braanti menundukkan kepalanya sambil berdesis, “Maafkan aku kakang.”
“Bramanti,” Nyai Pruwita terpekik. Kemudian berlari-lari ia memeluk anak laki-lakinya yang muda sambil menahan isak tangis, “Anakku.”
Bramanti menundukkan kepalanya. Sementara Nyai Pruwita kemudian membimbingnya menemui kakaknya.
“Kalian telah kembali,” Nyai Pruwita tidak dapat menahan air matanya yang mengalir dipipinya. Dan suaranya tersendat-sendat, “Kalian telah terluka. Marilah, aku ingin membersihkan luka-luka kalian di rumah.”
Comments