Tanah Warisan 287 (Tamat)
Minggu, 02-06-2002
Nyai Pruwita pun kemudian membimbing kedua anaknya itu tanpa menghiraukan orang lain. Baginya, ia adalah orang yang paling berhak atas kedua anak muda itu.
Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia mendengar suara seorang gadis, “Bramanti.”
Bramanti berpaling, bahkan ibunya dan Panggiring berpaling pula. Seorang gadis berdiri termangu-mangu di samping regol halaman Kademangan. dan gadis itu adalah Ratri.
“Ratri,” desis Bramanti.
Sejenak anak muda itu memandangi ibunya. Dan ternyata ibunya cukup bijaksana untuk melepaskannya.
Perlahan-lahan Bramanti mendekati Ratri. Tatapan mata gadis itu terasa langsung menembus jantungnya seperti tetesan embun di terik panasnya udara.
Meskipun demikian ia berdesis, “Apakah kau menanyakan kakang Panggiring?”
Ratri menggelengkan kepalanya, “Tidak Bramanti. Ternyata aku tidak mengharapkannya. Aku telah mencampurbaurkan penglihatanku atasmu pada saat kita pertama bertemu setelah sekian lama berpisah, dan kenangan atas Panggiring di masa kanak-kanak.”
“Sekarang?”
Ratri menundukkan kepalanya. Desisnya, “Sejak pertama kaulah yang sebenarnya aku sangka Panggiring atau barangkali kaulah yang sebenarnya aku bayangkan atau kenangan masa kanan-kanakku itu pada Panggiring.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling ia melihat ibunya masih membimbing Panggiring berjalan tanpa menghiraukan apapun juga.
Bramanti tergagap ketika ia mendengar Ratri bertanya, “Kau terluka?”
Bramanti mengangguk, “Ya. Sedikit. Kakang Panggiring telah menyelamatkan nyawaku.”
Marilah, aku bersihkan luka itu. Kamu mau pulang juga bukan?”
Bramanti memandang wajah Ratri sejenak, kemudian sambil tersenyum ia mengangguk. “Ya, marilah.”
Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan regol halaman. Kademangan yang masih ribut dengan para pengawal yang sedang melucuti senjata anak buah Wanda Geni dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri.
Sementara Ki Tambi memandangi langkah-langkah Panggiring bersama ibunya dan Bramanti bersama Ratri sambil tersenyum. Di belakangnya beberapa langkah, Temunggul berdiri berpegangan pada sebatang pohon manggis. Dengan dahi berkerut merut, dipandanginya langkah-langkah itu juga semakin jauh.
Tiba-tiba Temunggul terkejut. Seorang gadis telah menggamitnya sambil berbisik, “Kau tidak mengantarkannya lagi?”
Temunggul berpaling. Dilihatnya gadis bermata cerah kawan Ratri yang diantarkannya malam-malam pada saat ia dicegat oleh Wanda Geni.
Sambil tersenyum Temunggul menjawab, “Buat apa aku tergila-gila kepada seorang gadis yang tidak mencintaiku.”
“Kalau ada yang mencintaimu?”
Temunggul tertawa. Keduanya kini menatap langkah-langkah Panggiring bersama ibunya dan Bramanti bersama Ratri semakin lama semakin jauh. Sedang matahari di langit semakin lama semakin cerah. Selembar awan yang putih lewat didorong oleh angin yang lembut mengalir ke Utara. Dan burung-burung liar masih saja berkicau seakan sedang mendendangkan kidung gembira.
Dan Kademangan Candisari pun memang sedang bergembira, menyongsong hari depan yang cerah.
Tamat
Posted on December 29th, 2007 by panggiring
Filed under: Tanah warisan 904 Views





on December 29th, 2007 at 2:51 pm Said:
Happy ending ya.
–
akhirnya diriku jadi tahu, mengapa admin situs ini punya nickname panggiring
on December 30th, 2007 at 6:37 am Said:
keren to Yan
panggiring rek, pernguasa pesisir utara pulau jawa
dan punya markaz besar di alasroban 
on December 12th, 2011 at 3:40 pm Said:
TANAH WARISAN YA?? penuh kontrofersial
di islam juga ada pelajaran tentang pembagian tanah waris, tetapi banyak yang mengabaikannya